Demikian diungkapkan oleh Direktur Peredaran Uang Muhammad Dahlan ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (10/6/2011).
"Memang kemarin itu meningkat dan tahun lalu kan juga. Nah itu berarti efektifitas sosialisasi yang dilakukan BI berhasil sehingga banyak masyarakat yang melaporkan dan akhirnya dibongkar polisi," ujar Dahlan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sindikatnya dari dalam negeri semua, tidak ada dari luar negeri jadi masyarakat mesti hati-hati," tutur Dahlan.
Menurut Dahlan sampai saat ini, pola 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang) masih menjadi cara ampuh untuk mengetahu keaslian uang kertas yang beredar. Pola ini pernah disebarluaskan melalui iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh BI.
"Sampai saat ini, cara tersebut masih efektif dan Bank Indonesia (BI) juga terus diamanatkan untuk membuat desain uang kertas yang baik," jelasnya.
Dahlan mencontohkan, dari sosialisasi 3D tersebut ternyata efektif bisa mencegah peredaran uang palsu. Di Semarang, sambung Dahlan kondektur bis saja berhasil mencegah peredaran uang palsu dengan melihat ciri uangnya. "Kemudian dilaporkan ke Polisi dan akhirnya pelaku bisa dibekuk," tuturnya.
Sebelumnya, BI mencatat peredaran uang palsu di Indonesia kembali menunjukkan peningkatan. Rata-rata temuan uang palsu hingga kuartal I-2011 tercatat dalam 1 juta bilyet uang asli BI menemukan 3 lembar uang palsu. Padahal per Februari 2011 kemarin bank sentral hanya menemukan 2 lembar uang palsu dalam 1 juta bilyet uang asli.
(dru/qom)











































