Dalam survei perbankan yang dikeluarkan Bank Indonesia, dikatakan peningkatan bunga kredit bank terbesar terjadi pada bunga kredit konsumsi dari 15,54% menjadi 16,42%.
"Pada triwulan II-2011 terjadi peningkatan cost of fund. Untuk cost of fund rupiah naik rata-rata 5,05% menjadi 6,09%. Demikian pula untuk cost of fund valas naik dari 1,27% menjadi 1,32%," demikian isi survei tersebut yang dikutip, Selasa (12/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan cost of fund ini yang membuat perbankan tak bisa menekan atau menahan bunga kreditnya. Malahan bunga kredit perbankan makin mahal.
"Bunga kredit modal kerja sepanjang triwulan II-2011 naik dari 12,94% menjadi 13,51%. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, suku bunga kredit rupiah naik antara 5-84 bps," kata survei itu.
Responden dalam survei ini mengungkapkan kenaikan bunga kredit itu merupakan antisipasi dari peningkatan bunga dana simpanan pada periode mendatang.
Khusus untuk kredit modal kerja, peningkatan suku bunga didorong oleh meningkatnya penyaluran kredit untuk debitur mikro, menengah dan kecil (MKM) yang umumnya memiliki tingkat suku bunga di atas rata-rata.
Sementara rata-rata suku bunga dasar kredit (SDBK) dari beberapa bank sampai akhir triwulan II-2011 tercatat 10,73% untuk kredit korporasi dan 11,7% untuk kredit ritel. Sedangkan untuk kredit konsumsi yang terdiri dari KPR dan Non KPR, SDBK masing-masing sebesar 11,09% dan 10,79%.
Pada survei tersebut dikatakan, sektor ekonomi yang menjadi prioritas target pemberian kredit baru pada triwulan III-2011 adalah sektor perdagangan besar dan eceran, disusul oleh sektor industri pengolahan dan sektor real estat, usaha persewaan dan jasa perusahaan.
Kusus untuk penyaluran kredit investasi pada triwulan mendatang, tingkat optimisme responen mengalami penurunan.
(dnl/qom)











































