Tingginya Minat Temasek pada Perbankan RI Dipertanyakan

Tingginya Minat Temasek pada Perbankan RI Dipertanyakan

- detikFinance
Jumat, 25 Jun 2004 13:58 WIB
Jakarta - Tingginya minat BUMN Singapura Temasek terhadap saham-saham perbankan Indonesia perlu dipertanyakan. Volume kepemilikan Temasek di perbankan Indonesia juga perlu dihitung lagi. "Sebetulnya perlu dihitung berapa persen volume kepemilikan saham Temasek dalam kegiatan perbankan nasional. Ini mengundang pertanyaan besar kenapa BUMN Singapuran membeli sebanyak mungkin perusahaan vital di Indonesia. Ada apa itu?," tegas Meneg PPN/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie dalam jumpa pers di Kantor Bappenas, Jakarta, Jumat (25/6/2004).Mengenai keinginan Temasek untuk membeli saham Bank Permata, Kwik meminta semua pihak menyikapinya secara kritis. Alasannya, keinginan Temasek itu dinilainya tidak semata-mata dipicu oleh aspek komersial namun ada faktor politik. "Saya melihatnya kok tidak hanya aspek komersialnya saja, ada pertimbangan politiknya juga," ujar Kwik.Kwik menyarankan agar Meneg BUMN Laksaman Sukardi melakukan tender divestasi secara terbuka dengan memasang iklan dunia sehingga jika ada penawar yang ternyata tidak memenuhi harga minimum yang diinginkan pemerintah, maka divestasi dibatalkan.Kwik melihat pemusatan kekuatan ekonomi di BUMN Singpuran seperti Temasek perlu dilakukan penghitungan. "Pemusatan kekuatan ekonomi di BUMN Singapura perlu dihitung. Temasek boleh-boleh saja ikut tender. Yang kita bicarakan disini adalah aspirasi masyarakat yang tidak menginginkan hal itu," katanya.Mengenai keinginan PT PPA untuk mendapatkan harga saham Bank Permata minimal 1,8 kali nilai bukunya, Kwik justru mempermasalahkannya. "Angka itu dari mana, kok mesti 1,8 kali. Untuk menghitung nilai perusahan itu tidak mudah, kok seperti matematika saja," tukasnya.Lebih lanjut Kwik meminta agar pemerintahan Megawati yang hanya tersisa beberapa bulan masa kerjanya ini tidak lagi melakukan penjualan aset negara. "Apapun jangan dijual. Serahkan kepada pemerintahan baru, kasihan mereka," ujar Kwik. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads