"Mahal, saya kira Rp 6,7 triliun untuk Bank Mutiara itu terlalu mahal," ujar Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo dalam konferensi pers paparan kinerja Semester I-2011 di Gedung BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (25/7/2011).
Menurut Gatot, Bank Mutiara juga tidak sejalan dengan bisnis dan ekspansi BNI. Gatot mengatakan dalam proses akuisisi harus dilihat segmen dari bank yang akan diakusisi terlebih dahulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, sambung Gatot ketika dilihat memang nilai buku Bank Mutiara bisa melebihi Rp 8 triliun sudah pasti tidak akan mencukupi modal BNI.
BNI Terus Kejar BPUI
Pada kesempatan yang sama Gatot menyampaikan BNI terus mengejar rencana akuisisi Bahana Securities. Gatot menuturkan BNI telah mengirimkan surat kepada Kementerian BUMN lagi.
"Akuisisi Bahana, kita sudah kirim surat ke kantor Menteri BUMN tapi di sisi internal masih reses, kita masih menunggu gimana perkembangan selanjutnya. Kantor Kementerian lagi disibukan BPJS, jadi proposal kita masih dinomorduakan," tuturnya.
Sebelumnya, Kementerian BUMN telah menyetujui penukaran obligasi rekap BNI dengan mengambil alih Bahana Securities. Pasalnya, setelah peralihan itu, BNI dapat menggabung Bahana Securities dengan BNI Sekuritas sehingga memperkuat kapasitasnya.
BNI mengincar salah satu dari dua perusahaan BUMN yang bergerak di insititusi keuangan yaitu Bahana Securities dan Danareksa Sekuritas. BNI bermimpi untuk dapat menukar salah satu perusahaan tersebut dengan obligasi rekap senilai Rp 17 triliun.
(dru/dnl)











































