Bankir Bingung Soal Bubble Sektor Otomotif Versi BI

Bankir Bingung Soal Bubble Sektor Otomotif Versi BI

- detikFinance
Senin, 25 Jul 2011 14:57 WIB
Jakarta - Bankir menilai Bank Indonesia (BI) perlu memperjelas potensi bubble yang kemungkinan terjadi di sektor otomotif dan properti. Industri perbankan saat ini melihat pertumbuhan penjualan masih dalam batas aman.

"Otomotif itu kita ngga langsung, lewat multifinance. Kalau mau diatur ya di multifinance-nya. Karena kita kan channeling. Saya ngga tahu BI lihat dari mana itu ada potensi bubble, apakah penjualan tinggi atau apa?," ujar Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo dalam konferensi pers paparan kinerja Semester I-2011 di Gedung BNI, Jalan Sudirman, Senin (25/7/2011).

Sementara Direktur Consumer and Retail Banking BNI Darmadi Sutanto menambahkan, membuat pertumbuhan penjualan unit di sektor otomotif menjadi besar karena belum adanya transportasi massal yang memadai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini kan belum ada solusi untuk mass transportasi. Industri multifinance sebagai mitra masih optimis itu ngga ada potensi bubble. Karena kan ngga ada mass transportasi," tuturnya.

Namun, Darmadi menyebutkan industri tetap concern atau dengan kata lain kekhawatiran di sektor otomotif tetap ada sehingga tetap melakukan antisipasi. Sedangkan untuk sektor properti, sambungnya, kekhawatiran terjadi bubble diharapkan tidak muncul dalam satu sampai dua tahun ke depan.

"Itu tetap ada, namun untuk rumah yang kita salurkan langsung itu nggak ada masalah dalam 1-2 tahun ke depan. Kita sangat sedikit yang spekulatif buyer. Pembiayaan apartemen dan rumah besar atau lebih dari Rp 1 miliar itu dibatasi. Lebih fokus ke debitur first home buyer, yang harganya juga di bawah Rp 1 miliar," terangnya.

Belum lama ini untuk menjaga kemungkinan terjadinya bubble di kedua sektor tersebut, BI akan menerapkan kebijakan loan to value ratio, dimana industri perbankan nantinya diminta untuk menaikkan uang muka (down payment/DP).

Di sisi kucuran kredit konsumer sendiri, kredit pemilikan rumah (KPR) lewat produk BNI Griya memberikan kontribusi sebesar 54%, mencapai Rp14,79 triliun pada semester satu 2011, tumbuh 49% dibanding posisi semester satu 2010 sebesar Rp9,96 triliun. Sementara kredit kendaraan tumbuh 32% dari Rp4,85 triliun di semester satu 2010, menjadi Rp6,39 triliun.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads