"Kita memberikan keleluasaan kepada bank-bank dan kita tidak ada arahan, dorongan ataupun intervensi. Kita serahkan saja kepada mereka," ujar Mustafa ketika ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Selasa (26/7/2011).
Menurut Mustafa, bank plat merah hingga saat ini belum melaporkan dan menunjukkan minat yang kuat untuk membeli bank tersebut. Walaupun dari Kementerian Keuangan sendiri, sambung Mustafa telah mendorong pembelian bank tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih belum adanya bank plat merah yang menyampaikan keinginan mengakuisisi Bank Mutiara menurut Mustafa dikarenakan bank BUMN masih meningkatkan kinerja internalnya secara organik ketimbang membeli bank tersebut. Bisa jadi, menurut Mustafa harga yang dipatok Bank Mutiara cukup tinggi.
"Saya belum tahu, tapi mungkin mereka sedang fokus pada pertumbuhan kredit. Tetapi mungkin juga karena itu (harga kemahalan), tapi saya belum mendapat alasan tersebut dari mereka," paparnya.
Pada kesempatan yang sama PT Bank Mandiri Tbk yang ternyata tengah mengkaji lebih dalam pembelian Bank Mutiara. "Kita tengah melakukan pengkajian itu (akuisisi Bank Mutiara). Dimana dari sisi pendanaan Mandiri cukup besar karena kita melakukan rights issue hingga Rp 11,68 triliun dan modal kita saat ini sudah di atas Rp 50 triliun," ujar Direktur Utama Mandiri Zulkifli Zaini.
Sebelumnya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) telah menyatakan terlebih dahulu ketikdatertarikannya mengakuisisi Bank Mutiara. BNI menilai harga jual Bank Mutiara sebesar Rp 6,7 triliun terlalu mahal.
"Mahal, saya kira Rp 6,7 triliun untuk Bank Mutiara itu terlalu mahal," ujar Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo kemarin.
Menurut Gatot, Bank Mutiara juga tidak sejalan dengan bisnis dan ekspansi BNI. Gatot mengatakan dalam proses akuisisi harus dilihat segmen dari bank yang akan diakusisi terlebih dahulu.
(dru/ang)











































