Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution disela acara penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemenakertrans dan BI di Gedung BI Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (1/8/2011).
"Bank kita memang kalah bersaing dengan bank asing di luar negeri sana. TKI lebih banyak memakai jasa bank asing, dengan cara apapun memang kalau hanya sekedar ditingkatkan saja ya tidak akan berubah daya saing kita," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"TKI mementingkan layanannya. Bank asing jauh lebih murah dalam memberikan layanan dibandingkan dengan bank lokal disana," terang Darmin.
"Daripada edukasi saja dan mengajak TKI disana menggunakan bank nasional itu akan capek. Makanya lebih baik bagaimana bank nasional berusaha memberikan jenis layanan baru," imbuh Mantan Dirjen Pajak ini.
Darmin menambahkan, kedepan sudah seharusnya bank nasional di luar negeri memberikan desain kombinasi produk khusus TKI yang bersifat hybrid dan mix.
"Misalkan saja TKI dan masyarakat di daerah itu lebih suka mencicil rumah, tetapi ditambahkan dengan cicilan untuk membeli kerbau atau sapi secara produktif jadinya. Nah seperti itu yang harusnya dikembangkan," tambahnya.
Ditempat yang sama Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad mengatakan nantinya akan ada Tim dari bersama dari BI yang akan mengkaji lebih jauh soal lebih banyaknya TKI yang gemar menggunakan bank asing dibanding bank lokal.
"Nanti akan ada Tim yang dibuat memang yang juga memberikan gambaran dan mengkaji lebih jauh model dan layanan yang diperlukan TKI," jelasnya.
Sementara Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengklaim masih banyak potensi dari TKI belum dimaksimalkan perbankan nasional.
"TKI Hongkong dan Asia Pasifik yang berkontribusi besar termasuk Timur Tengah tidak kurang dari Rp 60 triliun setahun belum disentuh perbankan nasional," jelasnya.
Ia menambahkan, terutama untuk para TKI di kawasan Hongkong dan Taiwan yang sebagian besar masih menggunakan bank-bank di kedua negara tersebut.
"Semuanya didominasi dan dikendalikan bank Taiwan dan Hong Kong, sehingga beban biaya dan bunga besar. Bank kita belum mau dan belum bisa memanfaatkan potensi keuangan yang ada," terangnya.
(dru/qom)











































