Dana Asing 'Kabur' dari SBN Hanya Sesaat

Dana Asing 'Kabur' dari SBN Hanya Sesaat

Ramdhania El Hida - detikFinance
Senin, 08 Agu 2011 14:57 WIB
Jakarta - Pemerintah menilai wajar keluarnya dana asing dari obligasi negara (Surat Berharga Negara/SBN). Menurutnya, investor hanya ingin mengetes pasar (test the market).
Β 
"Kalau saya, sangat wajar kalau seandainya investor itu test the market. Jadi investor itu sebetulnya walaupun impact sendiri-sendiri tapi mereka itu punya komunitasnya. Dan komunitasnya itu mengamati kondisi umum, fundamentalnya gimana, dan juga melihat dari policy response (respons kebijakan) masing-masing negara," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (8/8/2011).

Berdasar data Ditjen Pengelolaan Utang, sejak awal tahun ini kepemilikan SBN oleh asing cenderung meningkat, dari sebesar Rp 194,97 triliun pada Januari menjadi Rp 248,87 triliun per Juli.

Namun, pasca-kesepakatan kenaikan batas utang AS sebesar US$ 2,1 triliun pada 1 Agustus lalu, terjadi sentimen di pasar surat utang Indonesia yang terlihat dari pelepasan obligasi negara oleh asing sebesar Rp 450 miliar dalam 4 hari perdagangan (1-4 Agustus 2011) menjadi Rp 248,42 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kalau seandainya kemarin ada penurunan termasuk juga asing ada juga yang melepas itu sesuatu yang normal yang istilah kami adalah mereka ingin menguji saja," tuturnya.

Sementara Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu Rahmat Waluyanto memaparkan, sampai pukul 11.15 WIB situasi pasar SBN melemah tipis namun masih dalam kategori stabil.
Β 
"Meskipun IHSG terkoreksi tajam 4,99% menjadi 3.725,78. Harga SUN (Surat Utang Negara) tenor panjang turun 75-100 basis points (0,75-1,0), sedangkan yang jangka pendek dibawah 50 cents. Yield SUN 10 tahun masih sekitar 6,9 persen. Sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda selling off apalagi reversal, karena nilai tukar masih berada pada Rp 8.556,6 atau minus 11%," kata Rahmat.

"Berdasarkan data perdagangan hari Jumat 6 Agustus, investor asing menjadi net seller sebesar Rp 663,27 miliar. Kita terus mengamati pasar berdasarkan Crisis Management Protocol dan komunikasi dengan primary dealers. Sejauh ini belum dilakukan operasi pasar," tambah Rahmat.

Agus Marto pun tetap yakin investor asing akan kembali ke pasar obligasi Indonesia. Pasalnya, dari sisi fundamental dan kebijakan cukup mendukung kondisi pertumbuhan ekonomi lokal.

"Tapi begitu tahu bahwa, pertama, fundamental kita itu baik, terus kedua policy kita semua konsisten, itu mereka kembali tenang. Secara fundamental kita yang paling utama, coba kamu bandingkan debt to GDP dan deficit to GDP. Negara-negara yang diwaspadai tentu yang debt to GDP-nya besar dan defisit besar," pungkasnya.

(nia/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads