BI Masih Tenang Hadapi Ancaman Krisis AS & Eropa

BI Masih Tenang Hadapi Ancaman Krisis AS & Eropa

- detikFinance
Rabu, 10 Agu 2011 14:42 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) bersikap tenang di tengah kecemasan investor global akan perlambatan ekonomi dunia. Bank sentral belum melihat adanya gejolak membahayakan di dalam negeri. Indikator krisis juga masih menunjukkan 'lampu hijau'.

"Apa yang berkembang sekarang ini belum bisa sampai pada kesimpulan yang bulat. Tapi memang kecenderungannya jelas. Pasar masih meragukan pemulihan ekonomi di negara maju terutama AS akan memadai," kata Gubernur BI Darmin Nasution, ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (10/8/2011).

Ia memaparkan dari sejumlah indikator crisis management protocol, hanya indikator indeks pasar modal yang menunjukkan lampu kuning. Indikator lainnya seperti nilai tukar dan capital outflow masih menunjukkan sinyal positif. "Intinya, secara umum masih di lampu hijau," kata Darmin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan Darmin, adanya keraguan atas kondisi global sebetulnya sudah sedikit tertolong melalui peningkatan batas utang. Namun, kekhawatiran lagi-lagi muncul setelah Standard & Poor's memangkas peringkat utang AS. Kendati demikian, ada beberapa indikator yang masih menunjukkan sinyal positif. Seperti langkah The Fed menahan suku bunga rendah mendekati 0%.

"Kalau fiskal sudah kehabisan ruang untuk berikan dorongan ke perekonomian, tinggal moneternya melalui bank bentral," tegas Darmin.

Darmin berharap langkah yang diambil AS nantinya lebih ke arah kebijakan fiskal. Pasalnya, kebijakan fiskal tidak akan mengakibatkan capital flow terlalu besar. Intensif fiskal juga lebih terarah dibandingkan moneter.

"Kalau lewat bank sentral tidak bisa terlalu diarahkan. Dananya akan langsung jatuh ke pemilik aset-aset besar, terutama surat-surat berharga. Lalu dalam waktu cepat akan disalurkan ke wilayah dengan imbal hasil lebih bagus," jelas Darmin.

"Kita siapkan langkah yang perlu diambil. Kami punya langkah-langkah antisipatif. Kalaupun gejolak tadi semakin berat, ada SOP, crisis management protocol bersama Menteri Keuangan," imbuh Mantan Dirjen Pajak ini.

(dru/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads