"Ketahanan industri perbankan kita tidak ada masalah, dari likuiditas kuat dan dari ketahanan modal kuat. Resiko pasar juga tidak banyak terganggu. Karena banyak Surat berharga yang dimiliki bank kita adalah surat berharga dalam negeri terutama SBI dan SUN. Jadi enggak ada masalah," ungkap Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah ketika ditemui disela acara Buka Bersama Perbanas dan IBI di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis Malam (11/08/ 2011).
Halim memberi contoh, bank asal New York, seperti Citibank dan Bank Asal Perancis, BNP Paribas cukup kuat dari sisi keuangan di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Citibank, Halim menegaskan kinerjanya tidak tergantung permasalahan yang ada di sana. "Karena mereka kebanyakan operasinya di Indonesia. Sehingga mereka lebih terkait dengan kondisi ekonomi di Indonesia," kata dia.
Deputi Bidang Pengawasan Perbankan ini menjelaskan, biasanya kalau kondisi krisis, yang jadi masalah itu adalah ketersediaan likuiditas.
Dalam kondisi di Indonesia, sambung Halim sama sekali tidak memiliki kesulitan likuiditas. Dari sisi pertumbuhan kredit pun, Halim mengatakan kondisinya cukup stabil.
"Tumbuh 23% itu ya kan stabil dan relatif cukup kuat. Kita tidak melihat akan ada perubahan besar dan terpengaruh karena masalah global ini tidak sampai ke kita," terangnya.
"Mungkin dalam jangka menengah panjang ada, tapi kita harus lihat lagi. Dan dalam jangka pendek saya kira tidak ada imbas krisis," imbuhnya.
Jangka menengah yang seperti apa? Halim menjelaskan artinya, jika jangka menengah panjang ekonomi dunia kemudian menurun pertumbuhan ekonominya, otomatis pertumbuhan ekspor RI akan terkena.
"Ini sedikit mengurangi kekuatan ekonomi kita. Tapi hasil dari simulasi yang kita lakukan, perekonomian Indonesia menunjukkan cukup kuat. Dan kecil pengaruh dari penurunan pertumbuhan ekonomi AS," tambahnya.
(dru/ang)











































