Hal ini disampaikan SBY dalam pidato 'Nota Keuangan 2012' di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8/2011).
"Cadangan devisa kita telah mencapai US$ 123,2 miliar pada awal Agustus 2011 sebuah peningkatan hampir 350% bila dibandingkan dengan cadangan devisa di tahun 2004 sebesar US$ 36,3 miliar," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi ini juga disertai dengan terjadinya surplus neraca modal, seiring dengan meningkatnya arus modal masuk ke negara kita, yang dalam semester pertama tahun ini naik sekitar US$ 6,8 miliar dari posisi akhir 2010," kata SBY.
Dalam kesempatan itu, SBY juga bangga bahwa di tengah perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian itu, ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh 6,5%.
Menurut SBY, ini merupakan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah krisis di 1998. Pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh investasi, ekspor, dan konsumsi masyarakat.
Di tengah kondisi krisis utang di Eropa dan AS ini, SBY mewaspadai terjadinya pembalikkan arus modal asing ke luar Indonesia.
"Pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah pengamanan. Kita lakukan kerjasama dengan Bank Indonesia untuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN), pembelian kembali SBN dengan dana APBN, pembentukan dana stabilisasi obligasi, dan penyiapan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk mendukung stabilisasi pasar SBN domestik," kata SBY.
"Langkah antisipasi ini kita lakukan untuk memberikan sinyal positif bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini aman dan baik. Langkah-langkah ini, Insya Allah dapat meningkatkan kepercayaan dan keyakinan bagi para pelaku ekonomi," tukasnya.
(dnl/qom)











































