"Waktu itu di Depok 3 sampai 4 tahun yang lalu menjadi pusatnya, karena banyak residivis yang bermain. Dan waktu itu berdasarkan hukum pidana hukumannya ringan, sekarang pakai UU mata uang," ujar Deputi Direktur Direktorat Pengedaran Uang BI Adnan Djuanda, di Monas, Jakarta, Kamis (25/8/2011).
Dari data BI per Juni, kantor Koordinator Bank Indonesia (KKBI) Surabaya merupakan wilayah yang paling banyak persentase temuan uang palsu, yakni 37,7%. Kantor Pusat 24,6%, KKBI Medan 0,3%, KKBI Padang 0,5%, KKBI Palembang 6,2%, KKBI Bandung 13,6%, KKBI Semarang 8,2%, KKBI Denpasar 3,3%, dan KKBI Banjarmasin 2,1%
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepertinya menurun. Dibandingkan dengan negara lain yang rata-rata mencapai 40 lembar per satu juta bilyet," tuturnya.
Menurunnya peredaran uang palsu tidak lepas dari sosialisasi yang terus dibangun BI dan perbankan. "Memang tahun lalu tinggi (peredaran uang palsu), tapi tahun ini sudah turun," katanya.
Ia menyebut sosialisasi berupa wayang di daerah-daerah digadang-gadang efektif membuat masyarakat peduli akan pemberantasan uang palsu. "Karena wayang semalam suntuk, jadi pasti lebih berhasil," tegas Adnan.
(dru/dnl)











































