"Angka tersebut telah melebihi target perseroan yang dipatok selama 2011 sebesar US$ 13 miliar," jelas Direktur Treasury and Financial Institution BNI, Adi Setianto di Gedung BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (12/9/2011).
Menurut Adi, salah satu faktor penguatan rupiah yang terjadi belakangan menyebabkan tingginya nilai ekspor. "Barang modal dari luar negeri menjadi lebih murah masuk ke Indonesia," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun ini juga, walapun telah melebihi targetnya trade finance BNI masih akan terus tumbuh 20% paling besar," jelas Adi.
Sementara hingga semester I tahun 2011 BNI telah membukukan volume trade finance di luar garansi bank sebesar US$ 10,5 miliar dengan komposisi transaksi ekspor sebesar 30% dan impor 70%. Sampai dengan semester I 2011, BNI telah memegang 26% pangsa pasar transaksi ekspor impor Indonesia.
Transaksi trade finance BNI saat ini didominasi oleh sektor korporasi, dan sebagai sasaran dalam pengembangan bisnis, BNI sudah mulai menggarap transaksi trade finance pada segmen.
Β
Untuk menambah ekspansinya, BNI akan menggandeng Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebagai bank koresponden. Serta, Adi mengatakan adapun bank luar negeri seperti Korea Exim Bank sebagai bank koresponden baru.
"BPD Jawa Barat sudah, nah kedepan potensi BPD masih cukup banyak yang belum masuk bank devisa. Kita akan bekerjasama juga dengan BPD Kaltim dan Kalteng serta untuk bank koresponden luar negeri kita akan bekerjsama salah satunya dengan Korea Exim Bank," papar Adi.
(dru/hen)











































