Menurut Direktur BTN Irman Zahirudin, pihaknya juga terus mendorong kepada pelaku industri seperti Real Estate Indonesia (REI) dan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) untuk menyediakan unit rumah.
"Kami akan diskusi dengan pelaku, dimana ketersediaan unit harus ada. Saat ini kepastian suplai harus ada. Saya harapdi empat bulan terakhir ini dapat memfasilitasi 15 ribu pembiayaan per bulan," jelas Irman di Jakarta, Rabu (14/9/2011) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus ada percepatan, kalau ingin memenuhi target," tegas Irman.
Di awal tahun, program FLPP mengalami hambatan. Salah satunya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Ini menyebabkan ada pengurangan permintaan dari Januari hingga Maret 2011 sekitar 10 ribu unit.
Berdasarkan catatan Irman, hingga Juni 2011 total penyerapan FLPP mencapai 46 ribu unit. Nilai pembiayaan ini mencapai Rp 2,3 triliun, dengan rata-rata pembiayaan Rp 50 juta per unit.
"Kalau data Juli dan Agustus sepertinya bisa 10 ribu unit masing-masing," paparnya.
Seperti diketahui, pemerintah berencana membangun 121.426 unit KPR sejahtera tapak senilai Rp 5,9 triliun dan 2.914 unit KPR sejahtera susun senilai Rp 299 miliar, keduanya memakai kredit konvensional dengan total nilai Rp 6,2 triliun.
FLPP bertujuan memberikan kesempatan masyarakat yang memenuhi persyaratan kredit rumah yang dibeli dari pengembang, dengan cicilan lebih ringan dari yang berlaku saat ini.
Bagi masyarakat yang sudah memiliki KPR konvensional pun, bisa mengkonversi menjadi KPR dengan FLPP dan segera menikmati bunga rendah. Penetapan bunga yang lebih rendah ini disebabkan karena masuknya FLPP dalam pembiayaan kredit perumahan bagi seluruh masyarakat. Porsinya bahkan mencapai 50% dari total nilai KPR.
(wep/ang)











































