Demikian disampaikan oleh Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (23/9/2011).
"Kalau belum berhenti (bergejolak) kita akan terus beli (rupiah). Kita akan terus beli sehingga bisa lebih likuid dan kalau anda ikuti sampai penutupan siang ini indeks sebetulnya sudah mulai positif," ujar Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di mana pun di dunia ini, kalau sudah mengintervensi pasar selalu bank sentral yang punya amunisi lebih banyak. Kecuali barangkali Jepang karena UU mengatakan menkeunya yang harus intervensi bukan bank sentral," tegasnya.
"Itu (posisi cadangan devisa) masih lebih dari cukup. Saya tidak perlu menjelaskan detail sekarang, nanti kita jelaskan cadangan devisa lebih dari cukup untuk intervensi, untuk mengendalikan," imbuh Mantan Dirjen Pajak ini.
Menurut Darmin, dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing pasti memakai cadangan devisa.
Pada bagian lain, Darmin menyampaikan memang dalam beberapa pekan ini gejolak besar pasar keuangan internasional mulanya berasal dari kasus-kasus di Eropa.
"Tadinya negara-negara kecil yang bermasalah dengan utang, sekarang mulai tereskalasi ke negara-negara lain. Sehingga ini belum terjawab, belum artinya pasar belum tenang melihat ini, masih tetap merasa ini hal yang belum selesai dan ini membuat gejolak di pasar keuangan internasional," paparnya.
BI sambungnya percaya betul ini memang memerlukan waktu untuk membuat pasar tenang. Tetapi menurut Darmin, BI sebetulnya sejak hari-hari pertama terjadi gejolak di pasar keuangan internasional dan khususnya regional sudah turun ke pasar dan menjaga betul agar gejolaknya, fluktuasinya tidak begitu jauh.
"Memang mulai kemarin ktia mengubah cara kita melakukan intervensi. Kalau sebelumnya kita banyak intervensi di pasar valas, maka mulai kemarin kita seimbang melakukan intervensi. Baik di pasar valas maupun pasar SUN," tukasnya.
(dru/dnl)
