Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad ketika ditemui disela acara Transparansi Produk, Perlindungan dan Mediasi Nasabah Perbankan di Hotel Papandayan, Bandung, Sabtu (24/9/2011).
"Saat ini pertumbuhannya masih dalam koridor yang belum mengkhawatirkan kita baru akan atur jika nantinya pertumbuhan kredit konsumsi mencapai 40%-50%," ungkap Muliaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertumbuhan kredit konsumsi masih 30% dan sesuai Rencana Bisnis Bank pertumbuhan kredit masih sejalan dengan targetnya. Posisi terakhir kredit tumbuh 24,2%," jelas Muliaman.
Dari seluruh porsi kredit yang disalurkan, Muliaman mengatakan walaupun pertumbuhan kredit konsumsi cukup tinggi tetapi masih didominasi oleh pertumbuhan kredit yang produktif. Muliaman menambahkan, bank sentral telah mempunyai beberapa opsi untuk mengatur lebih jauh mengenai pesatnya kucuran kredit di sektor kendaraan bermotor ini. Terutama, sambungnya adalah mengaitkan kredit lebih kepada nilai alias loan to value.
"Itu salah satu opsi (loan to value) itu satu opsi yang bisa dipertimbangkan. Tetapi saat ini so far kredit konsumsi masih dalam koridor karena pertumbuhan masih lebih rendah dibanding tahun lalu," jelas Muliaman.
Seperti diketahui, Data BI menyebutkan nilai kredit konsumsi ini mencapai Rp 113 triliun hingga awal Agustus 2011 lalu atau tumbuh 6,2% sepanjang tahun (ytd) dan 23,2% secara year on year (yoy). Kini kredit konsumsi tumbuh hingga 30% yang sudah mendekati ambang batas BI.
Saat ini kredit perumahan mencapai Rp 17,9 triliun. Sebanyak 45% di antaranya merupakan kredit rumah di bawah tipe 70 m2 atau masuk kategori rumah sederhana. Adapun kredit kendaraan senilai Rp 12,6 triliun dan kredit multiguna Rp 14,5 triliun.
(dru/dnl)











































