"Yang ideal down payment 10% sudah oke," ungkap Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Wiwie Kurnia di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (27/9/2011).
Wacana peningkatan uang muka, bukan menjadi solusi atas kredit bermasalah alias (NPL/Non Performing Loan) pada perusahaan pembiayaan. Namun profil risiko atas masing-masing nasabah. Saat profil risiko rendah, bisa saja DP jauh lebih rendah, karena ada keyakinan dari perusahaan multifinance akan pembayaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang bank sentral telah memperingatkan adanya bubble di sektor otomotif. Beberapa perubahan tengah disiapkan seperti rencananya menaikkan uang muka.
"Misalnya kita mau beli mobil kan bank bayarin 90% kita bayar 10%. Makanya kita nanti DP diperbesar. Angkanya nanti yah," tegas Deputi Gubernur BI Hartadi Agus Sarwono kala itu.
Kredit Konsumsi, berdasarkan data BI hingga Agustur 2011 mencapai Rp 113 triliun. Angka ini bertumbuh 6,2% sepanjang tahun (YtD) dan 23,2% secara year on year (YoY). BI mengungkapkan pertumbuhan ini sudah mendekati ambang batas BI.
Ketua Bapepam-LK, Nurhaida menerangkan, kenaikan uang muka pada pembiayaan otomotif membawa misi untuk meminimalkan kredit macet. Namun implementasi aturan, diharapkan bisa memperhatikan kepentingan pelaku industri, baik perusahaan otomotif atau multifinance.
"Kami akan bicara nanti, disesuaikan dengan industri. Multifinance seperti apa. Batas minimum DP merupakan semangat dalam keamanan pembiayaan. Risiko seperti apa? Kemudian, NPL sepeti apa? Ini tengah dibahas, dan coba secara dalam dilihat," imbuh Nurhaida.
(wep/dru)











































