"Sangat penting buat investor yang ingin tahu tentang Indonesia. Mereka selama ini tidak tahun banyak. JPSK saya peduli, tidak dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan)," ungkap Chief Economist Bank Danamon, Anton Gunawan di Jakarta, Selasa (4/10/2011).
Pendirian JPSK, dapat memitigasi perubahan risiko yang mungkin terjadi akibat krisis finansial, serta potensi defalut utang Eropa yang belum ada indikasi membaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengetatan kondisi pendanaan internasional bagi investor asing, yang ikut berpartisipasi di pasar obligasi domestik Indonesia, dapat menurunkan kepemilikan mereka. Juga memberikan tekanan terhadap mata mata uang, yang mengakibatkan turunnya sentimen terhadap ekuitas," tulis laporan triwulan terkini Bank Dunia pimpinan Shubham Chaudhuri.
Atas fakta yang tersaji diatas, Bank Dunia telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,7% menjadi 6,3% hingga akhir 2011. Skenario ini terbilang moderat (baseline). Namun jika kondisi global memburuk, dampak negatif atas perubahan ekonomi Indonesia akan lebih berat.
Seperti disampaikan Shubham, skenario terburuk pertama adalah kondisi global sama buruknya seperti krisis di 2008, yang menjadikan pertumbuhan ekonomi dunia terhambat dan memicu aliran modal keluar dari negara-negara berkembang.
Skenario paling buruk adalah, pertumbuhan emerging market turun tajam (hard landing). Kondisi ini menjadikan pelambatan pertumbuhan global dan penurunan drastis harga-harga komoditas.
"Potensi dampak pada Indonesia pada sektor riil, melalui jalur perdagangan. Karena paparan terhadap pasar berkembang dan permintaan komoditas. Pengaruh sektor keuangan dari goncangan eksternal membawa dampak tambahan dalam hal pasar keuangan domestik dan komoditas," tegas Shubham.
"Tidak perlu menunggu skenario kedua seperti Bank Dunia sampaikan. Pada kondisi sekarang juga perlu, karena antisipasi," imbuh Anton.
(wep/ang)











































