BNI juga mengkhawatirkan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memperbolehkan industri telekomunikasi mempunyai uang elektronis alias e-money hingga remitansi akan mengambil pangsa pasar industri perbankan.
Direktur Utama BNI Gatot Suwondo menyatakan industri telekomunikasi memiliki pendanaan yang cenderung likuid sehingga bank belum perlu menyalurkan pendanaan lebih banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gatot mengatakan telekomunikasi merupakan sektor yang masuk dalam fokus perseroan dalam pengembangan industri.
Sebenarnya, sambung Gatot, ada dua hal yang harus diperhatikan oleh BNI dalam mencapai tujuan mengembangkan industri daerah serta mendukung pembangunan, yaitu infrastruktur dan peningkatan pemberdayaan sumber daya alam. Komunikasi merupakan sektor yang termasuk dalam pengembangan infrastruktur.
"Penyaluran kredit ke sektor telekomunikasi pada Juni 2011 mencapai Rp4,6 triliun, turun 2,1% dibandingkan dengan Desember 2010 yang mencapai Rp4,7 triliun (year to date)," terangnya.
Gatot juga 'curhat' terkait dengan maraknya perusahaan telekomunikasi yang memberikan layanan bagi nasabahnya yang mirip perbankan.
"Kemarin BI mengizinkan industri telco untuk melakukan kegiatan remitansi, saya takut BI kelepasan memberi izin kepada telco untuk membuka giro nantinya," tegas Gatot.
Menurutnya, hingga 2010 jumlah konsumen industri telekomunikasi sudah mencapai 150 juta, padahal hingga Juni tahun ini BNI hanya dapat menjaring nasabah Giro sekitar 7 juta nasabah.
"Bagaimana ini harus diserahkan kepada ahlinya. Jangan telco jadi lebih dominan," terangnya.
(dru/ang)











































