Turun US$ 10 Miliar, BI Klaim Cadangan Devisa Aman

Turun US$ 10 Miliar, BI Klaim Cadangan Devisa Aman

Herdaru Purnomo - detikFinance
Jumat, 07 Okt 2011 13:34 WIB
Turun US$ 10 Miliar, BI Klaim Cadangan Devisa Aman
Jakarta -

Cadangan devisa Indonesia turun US$ 10 miliar dari US$ 124,5 miliar di akhir Agustus 2011 menjadi US$ 114,5 miliar. Namun Bank Indonesia (BI) mengatakan posisi cadangan devisa masih aman.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Hartadi A. Sarwono kepada detikFinance, Jumat (7/10/2011).

"Cadangan devisa masih di atas batas aman. Cadangan devisa memang kita gunakan bila diperlukan untuk menjaga voltilitas nilai tukar yang berlebihan dan berlangsung cepat," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hartadi mengatakan, BI akan terus mengumpulkan cadangan devisa untuk bisa digunakan meredakan situasi yang memburuk khususnya untuk nilai tukar rupiah.

"Ke depan saya mengharapkan ada solusi konkret untuk menyelesaikan masalah di Uni Eropa sehingga sentimen negatif segera pulih kembali. Begitu pulih saya percaya investor akan kembali lagi karena prospek ekonomi kita yang baik," jelas Hartadi.

Dikatakan Hartadi, Indonesia tetap menarik bagi investor untuk menanamkan dananya karena itu dia meminta Eropa serius untuk memperbaiki kondisi ekonominya.

"Nilai tukar akan menguat seriring dengan capital flows (sana asing) yang akan akan masuk kembali," tukas Hartadi.

selama sebulan cadangan devisa RI anjlok US$ 10 miliar. Cadangan devisa tersebur tergerus akibat langkah BI menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dolar yang terus menguat akibat banyak diburu pelaku pasar membuat bank sentral harus melepas dolar ke pasar supaya tidak terjadi kekeringan likuiditas.

Berikut data cadangan devisa RI sejak Januari 2011 :

  • Januari 2011: US$ 95,3 milliar
  • Februari 2011: US$ 97 miliar.
  • Maret 2011: US$ 105,7 miliar.
  • April 2011: US$ 116,5 miliar.
  • Mei 2011: US$ 118 miliar.
  • Juni 2011: US$ 119,65 miliar.
  • Juli 2011: US$ 122,7 miliar
  • Agustus 2011 : US$ 124,5 miliar
  • September 2011 : US$ 114,5 miliar
(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads