Kredit Bank Tumbuh 23% Dalam Sembilan Bulan

Kredit Bank Tumbuh 23% Dalam Sembilan Bulan

Herdaru Purnomo - detikFinance
Selasa, 11 Okt 2011 15:49 WIB
Kredit Bank Tumbuh 23% Dalam Sembilan Bulan
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan terus menggeliat. Hingga akhir triwulan III-2011, kredit tumbuh 23,8% yang ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 30,1%.

Demikian disampaikan oleh Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (11/10/2011).

"Penyaluran kredit untuk pembiayaan kegiatan perekonomian terus berlanjut di mana tercermin dari pertumbuhan kredit yang mencapai 23,8% hingga akhir September 2011," kata Darmin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya dari komposisi penyaluran kredit, sektor investasi masih menjadi penopang disusul kredit konsumi dan kredit modal kerja.

"Kalau dilihat komposisinya, kredit investasi tumbuh paling tinggi 30,1%. Kredit konsumsi nomor dua yakni mencapai 24,8% serta kemudian kredit modal kerja yang pertumbuhannya 20,8%," jelasnya.

Darmin mengungkapkan, BI akan terus memperhatikan pertumbuhan kredit konsumsi. Bahkan jika terus menggeliat tumbuh maka BI siap mengeluarkan langkah dalam bentuk kebijakan menahan laju kredit konsumsi.

"Kalau kredit investasi 30% tinggi ya tidak ada yang buruk. Yang penting jangan kredit konsumsinya yang meningkat sangat cepat. Nanti pada saatnya kita menjelaskan langkah-langkah dalam hal-hal yang menyangkut konsumsi," katanya.

"Kalau dilihat per sektor. Sektor yang paling tinggi kenaikan atau pertumbuhan kreditnya adalah listrik. Itu pasti kredit investasi, dimana naiknya 58,5%. Kemudian pertambangan 22,8%. Jasa sosial 20,8% dan seterusnya," imbuh Mantan Dirjen Pajak ini.

Ditempat yang sama Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan terkait dengan kredit valas, per Agustus 2011 jumlahnya masih cukup terkendali dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Kredit valas jumlahnya kecil sekali dibanding kredit rupiah. Oleh karena itu kredit valas secara posisi jumlahnya hanya sekitar Rp 53,3 triliun realisasi sampai Agustus 2011. Tapi dibandingkan dengan total ekspansi kredit rupiah Rp 212 triliun kita bisa melihat bahwa kebutuhan kredit valas itu tidak besar," ungkap Halim.

(dru/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads