Selama ini penyedia jasa interkoneksi anjungan tunai mandiri (ATM) yang beroperasi di Indonesia yakni PT Artajasa Pembayaran Elektronis yang mengelola jaringan ATM Bersama, PT Rintis Sejahtera yang mengelola Prima, dan PT Daya Network Lestari yang mengelola Alto.
Direktur Direktorat Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Ronald Waas menyatakan penerapan national payment gateway (NPG) bertujuan agar perbankan lebih efisien dalam melakukan interkoneksi dengan bank lain, bukan menciptakan monopoli jaringan sistem pembayaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ronald, ketiga jaringan ATM tersebut belum terkoneksi satu sama lain sehingga beberapa bank menjadi anggota lebih dari satu switching untuk dapat memiliki interkoneksi dengan banyak bank di Indonesia.
Dalam rencana NPG ke depan, bank sentral akan membuat satu switching nasional guna menghubungkan seluruh bank yang ada di Indonesia.
"Masyarakat butuh satu sistem yang bisa menghubungkan semua bank. Namun ada juga pandangan yang mewakili pihak yang telah berinvestasi dalam industri ATM bahwa NPG ini adalah monopoli itu tidak benar," katanya.
Oleh karena itu, Ronald mengatakan BI telah membahas soal berita miring mengenai sistem persaingan tidak sehat dan berusaha membentuk model perusahaan switching nasional. Salah satunya adalah perusahaan switching tersebut nantinya akan dimiliki oleh seluruh pengguna jasa interkonesi, yakni bank dan perusahaan telekomunikasi.
"Jadi pengguna jasa interkoneksi adalah pemilik dari NPG. Selain itu
kami akan dorong perusahaan itu untuk go public agar makin transparan. Di sisi lain BI sebagai regulator juga siap mengawasi apabila perusahaan tersebut macam-macam, seperti menetapkan biaya yang tinggi ke nasabah," ujar calon Deputi Gubernur BI ini.
Menurut Ronald, bank sentral juga mendengar keluhan dari para pelaku industri yang khawatir akan terjadinya monopoli dalam NPG. Untuk itu, lanjutnya, model bisnis NPG yang sedang dibahas intensif oleh bank sentral adalah pelibatan semua pemain dalam bisnis termasuk sistem pembagian keuntungan dalam NPG.
Sebelumnya, Direktur Utama Rintis Sejahtera, Iwan Setiawan mengaku ada kekhawatiran NPG akan menciptakan monopoli dan mematikan usaha perusahaan switching ATM.
"Kami konsisten sepanjang tidak bertentangan dengan persaingan usaha. Jadi dalam menentukan perusahaan yang bertindak sebagai NPG jangan sampai menguntungkan satu pihak dan mematikan yang lain," ujarnya.
(dru/dnl)











































