"Sekarang kalau BI Rate hanya turun 0,25% untuk bank-bank yang fundamentalnya bagus saya kira bunga kita sudah rendah," ungkap Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja kepada wartawan di Jakarta, Kamis (13/10/2011).
"Kita belum melakukan penyesuaian suku bunga. Suku bunga deposito saja kita masih 6,25% yang paling tinggi, di BCA kita tidak ingin melakukan penurunan dahulu," tambah Jahja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin Kadin minta dibawah 10% atau 11% nah kita sudah memberikan di level tersebut," tutur Jahja.
Sebut saja suku bunga kredit khusus Usaha Kecil Menengah (UKM). Jahja mengatakan BCA memberikan bunga di angka 10%. Seperti halnya bunga kredit konsumen juga.
"KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) itu di 7,5% dan kredit kendaraan bermotor juga rendah. Bahkan KPR yang berupa promo itu diperpanjang lagi dari sebelum lebaran sampai dengan Desember 2011," paparnya.
Promo KPR menurut Jahja akan diberikan tempo bunga yang fix spada tahun pertama hingga tahun kedua. "Setelah tahun tersebut tidak otomatis naik ke 14%. Kita tawarkan paket yang lain," jelas Jahja.
Rasio Modal Cukup Tak Perlu Subdebt
Pada kesempatan yang sama, Jahja mengakui BCA memang tengah ekspansif dalam menyalurkan kredit. Namun hal tersebut tidak serta merta mengganggu Rasio Permodalan alias Capital Adequacy Ratio (CAR) hingga anjlok.
"BCA tetap menjaga CAR tidak berada di bawah 13%. Di akhir tahun nanti kita percaya CAR masih di kisaran 13,8%," paparnya.
Oleh sebab itu, rencana penerbitan obligasi subordinasi atau subdebt masih jauh dari realisasi. Bahkan, sambung Jahja, dirinya mempunyai opsi baru guna menambah permodalan.
"Kita nanti di akhir tahun pasti membukukan laba dan pasti menambah modalnya," tuturnya.
"Ada opsi lain yakni dengan mengecilkan komponen risiko kredit dalam CAR," imbuhnya.
Dijelaskan Jahja, BCA memiliki komponen risiko kredit dalam CAR sekitar 2% jadi cukup besar. Nantinya porsi tersebut akan diturunkan mengingat tingkat rasio kredit bermasalah alias NPL cukup terkendali.
"Sehingga otomatis CAR akan meningkat seiring dengan penurunan risiko kredit," tutup Jahja.
(dru/qom)











































