Gubernur Bank Sentra Libya, Saddek Omar Elkaber mengatakan, dari total US$ 170 miliar aset negara tersebut yang dibekukan, hanya US$ 1,5 miliar yang sudah dicairkan. Sementara pengiriman uang baru pasca perang baru sampai pada dua bulan lagi, sehingga krisis likuiditas masih jauh dari penyelesaian.
"Pengapalan pertama akan datang pada akhir Desember. Kita akan diharuskan mengelola masalah likuiditas hingga nanti," ujar Elkaber yang baru saja dipilih, dalam wawancaranya dengan Reuters, seperti dikutip detikFinance, Kamis (3/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, reformasi sistem perbankan Libya harus dibimbing oleh sebuah roadmap yang disusun lembaga internasional termasuk IMF. Namun untuk saat ini, lanjut dia, yang menjadi fokus pekerjaan Bank Sentral adalah menghadapi kekurangan uang tunai.
Kenaikan gaji, pengobatan, dan rekonstruksi akan menambah tekanan di tengah suplai uang tunai yang sangat terbatas. Antrean di luar bank semakin memanjang sepekan menjelang Idul Adha, karena umumnya masyarakat harus membeli kambing untuk dipotong seharga 500 dinar Libya atau sekitar Rp 3,7 juta. Kurangnya pasokan uang tunai dan juga minimnya jumlah binatang kurban telah menyebabkan harganya kini melonjak beberapa ratus dinar.
PBB memang telah menarik sanksi terhadap Libya setelah tumbangnya Muammar Khadafi. Namun proses untuk pencairan aset-aset Libya memakan waktu lama karena uang-uang tersebar di berbagai negara dengan peraturan yang berbeda-beda.
"Janji-janji telah dibuat untuk media," ujar Elkaber.
Terkait perbaikan sistem perbankan, ia berharap adanya bantuan internasional untuk model baru. Dan sebuah gambaran dasar sudah dibuat oleh IMF dan Bank Dunia pada 2-3 tahun silam.
"IMF dan Bank Dunia memiliki roadmap dan saya ingin maju dengan perubahan. Kami memerlukan bank sentral yang kuat," ujarnya.
Namun kendala terbesarnya adalah kekurangan tenaga kerja karena tenaga kerja nasional kekurangan orang yang ahli di sektor perbankan, seperti di sebagian besar ekonomi.
Elkaber mendesak para tenaga kerja ahli yang berada di luar negeri untuk pulang, namun ia menekankan kekhawatiran tentang masalah keamanan masih akan membayangi dalam beberapa tahun ke depan.
"Masalah keamanan akan memerlukan beberapa waktu," ujar Elkaber yang memperkirakan masalah ini butuh penanganan sekitar 5 tahun.
Untuk saat ini, bekerja dengan anggaran dasar dan berhubungan dengan masalah darurat menjadi prioritas bank. Menurutnya, terlalu awal berkomentar tentang kebijakan mata uang, lisensi asing ataupun model perbankan khusus.
"Fokus kami adalah makanan, obat-obatan dan rekonstruksi di area seperti Sirte, Misrata, Zintan, dan Zawia, juga kota-kota yang lebih kecil dan mencoba mengaktifkan lagi manufaktur," tambahnya.
(qom/dnl)











































