Deputi Gubernur BI Halim Alamsjah mengatakan, di satu sisi modal asing masuk membuat nilai rupiah terapresiasi, dan cadangan devisa meningkat. Namun di sisi lain, ada tantangan berupa pembalikan arus secara besar-besaran saat tidak ada pembauran instrumen investasi jangka panjang.
"Banyak pihak bilang, Indonesia akan tahan akan dampak krisis global. Ada situasi yang gembira. Namun jangan terlalu, karena ada tantangan besar. Indonesia memang tumbuh di tengah krisis, Tapi kita hadapi alami masuknya modal," ungkap Halim di gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (9/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia sendiri sejak 2010 hingga akhir semester I-2011 telah kedatangan modal asing US$ 45 miliar. Selama 2010 sekitar US$ 26 miliar, dan di Januari-Juni US$ 19 miliar.
"Indikatornya bisa dilihat di DJPU Kementerian Keuangan. SBN Asing terus naik hingga September," paparnya.
Sementara investasi langsung oleh pemodal asing juga naik. Tercatat di awal tahun investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) mencapai Rp 39,5 triliun, atau setara Rp 4 triliun.
Jumlah cadangan devisa di awal tahun juga mencatat kenaikan fantastis, dan hingga Agustus mencapai US$ 124 miliar, dan sedikit turun menjadi US$ 113 miliar di Oktober karena pembayaran utang luar negeri, dan pembayaran impor.
"Atas kondisi ini, kita harus arahkan modal masuk ke sektor usaha, bisa IPO atau obligasi untuk menstimulus market. Juga ada usaha, percepatan pembangunan di sektor infrastruktur hingga ada penciptaan lapangan kerja, perbaikan iklim investasi, dan perbankan. Selama ini ada mismatch pembiayaan," imbuhnya.
(wep/dnl)











































