Bank Mutiara Bermimpi Punya Aset Rp 19 Triliun

Bank Mutiara Bermimpi Punya Aset Rp 19 Triliun

- detikFinance
Kamis, 10 Nov 2011 09:54 WIB
Bank Mutiara Bermimpi Punya Aset Rp 19 Triliun
Jakarta - PT Bank Mutiara bermimpi punya aset hingga Rp 19 triliun di 2012. Hingga September 2011 aset bank dengan nilai bailout Rp 6,7 triliun ini telah mencapai Rp 12,5 triliun.

"Dari sisi aset, per September 2011 sudah mencapai Rp 12,56 triliun atau tumbuh 39,23% dibanding periode yang sama 2010 sebesar Rp 9,02 triliun. Dengan ini aset kita sudah naik 2,5 kali dibanding saat diambil alih LPS," ungkap Direktur Utama Bank Mutiara Maryono kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (9/11/2011).

Menurutnya, dalam mencapai target tersebut, perseroan akan memacu pertumbuhan kredit yang per September sudah tumbuh sekitar 60%, atau mencapai Rp 9 triliun lebih besar dibandingkan pada September 2010 yang hanya Rp 5,65 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kredit 50% akan kita fokuskan pada pengembangan di consumer banking," ungkap Maryono.

Peningkatan aset tersebut diharapkan bisa diikuti oleh pertumbuhan ekuitas perseroan, yang per September hampir sebesar Rp 1 triliun atau sebesar Rp 999,52 miliar, tumbuh 57,7% dibanding September tahun lalu sebesar Rp 633,84 miliar.

"Penjualan Mutiara progresnya untuk melepas. Tujuan kami prioritas dalam meningkatkan profit dan values. Sekarang profit kan naik 300% jadi Rp 286 miliar, ekuitas hampir Rp 1 triliun," terang Maryono.

Penjualan bank yang dulunya bernama Century itu, lanjutnya, merupakan kewenangan Lembaga Penjamin Simpanan. Ia menegaskan, pemegang saham akan kembali menjual pada tahun depan.

Adapun penawaran pada tahun ini, belum ada investor yang sepakat dengan harga yang ditetapkan sebesar Rp 6,7 triliun sesuai dana talangan yang dikucurkan LPS saat mengambilalih Bank Century itu pada 2008. Untuk mencapai harga itu, sedikitnya jumlah ekuitas perseroan harus mencapai Rp 1,5 triliun dengan price to book value tiga sampai empat kali.

"Untuk penjualan ini kita tingkatkan dulu ekuitas kita, kan price to book value itu tiga sampai empat kali, dominan dari ekuitas. Tapi ada faktor-faktor lain juga, kaya profile dari nasabah juga," pungkasnya.

(dru/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads