"Dari sisi aset, per September 2011 sudah mencapai Rp 12,56 triliun atau tumbuh 39,23% dibanding periode yang sama 2010 sebesar Rp 9,02 triliun. Dengan ini aset kita sudah naik 2,5 kali dibanding saat diambil alih LPS," ungkap Direktur Utama Bank Mutiara Maryono kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (9/11/2011).
Menurutnya, dalam mencapai target tersebut, perseroan akan memacu pertumbuhan kredit yang per September sudah tumbuh sekitar 60%, atau mencapai Rp 9 triliun lebih besar dibandingkan pada September 2010 yang hanya Rp 5,65 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan aset tersebut diharapkan bisa diikuti oleh pertumbuhan ekuitas perseroan, yang per September hampir sebesar Rp 1 triliun atau sebesar Rp 999,52 miliar, tumbuh 57,7% dibanding September tahun lalu sebesar Rp 633,84 miliar.
"Penjualan Mutiara progresnya untuk melepas. Tujuan kami prioritas dalam meningkatkan profit dan values. Sekarang profit kan naik 300% jadi Rp 286 miliar, ekuitas hampir Rp 1 triliun," terang Maryono.
Penjualan bank yang dulunya bernama Century itu, lanjutnya, merupakan kewenangan Lembaga Penjamin Simpanan. Ia menegaskan, pemegang saham akan kembali menjual pada tahun depan.
Adapun penawaran pada tahun ini, belum ada investor yang sepakat dengan harga yang ditetapkan sebesar Rp 6,7 triliun sesuai dana talangan yang dikucurkan LPS saat mengambilalih Bank Century itu pada 2008. Untuk mencapai harga itu, sedikitnya jumlah ekuitas perseroan harus mencapai Rp 1,5 triliun dengan price to book value tiga sampai empat kali.
"Untuk penjualan ini kita tingkatkan dulu ekuitas kita, kan price to book value itu tiga sampai empat kali, dominan dari ekuitas. Tapi ada faktor-faktor lain juga, kaya profile dari nasabah juga," pungkasnya.
(dru/ang)











































