Demikian disampaikan oleh Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung BI Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (11/11/2011).
"Kamu tahu tidak pertumbuhan kredit di mana totalnya itu hingga September 2011 itu mencapai 26% di mana Kredit Investasi 31%, Kredit Modal Kerja 24% dan Kredit Konsumsi kurang sedikit dari 24%," papar Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa minta BI untuk melambatkannya? Kan kredit konsumsi sudah lebih lambat dari yang lain," tuturnya.
Menurut Darmin, kredit konsumsi memang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia. Oleh sebab itu ketika pertumbuhannya dianggap masih wajar maka tidak akan dikeluarkan aturan untuk menahan laju pertumbuhan kredit tersebut.
"Kredit konsumsi itu perlu. Misalnya saja kalau tidak beli baju bagaimana pabrik tekstil dan garmen dapat uang. Yang penting itu jangan terlalu tinggi pertumbuhannya," papar Darmin.
Seperti diketahui BI memang mencatat pertumbuhan kredit perbankan telah menembus target Rencana Bisnis Bank (RBB) yang dipatok mencapai 24%.
Darmin menyampaikan BI tetap fokus menjaga stabilitas sistem perbankan dan memperkuat fungsi intermediasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, sehingga perekonomian nasional tetap dapat mencapai pertumbuhan yang optimal di tengah kekhawatiran terhadap prospek perekonomian global.
Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad menyampaikan, bank sentral telah mempunyai beberapa opsi untuk mengatur lebih jauh mengenai pesatnya kucuran kredit di sektor konsumsi. Terutama, sambungnya adalah mengkaitkan kredit lebih kepada nilai alias loan to value.
(dru/dnl)











































