Demikian diungkapkan oleh Deputi Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Irwan Lubis di sela Seminar tentang pembiayaan migas di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (24/11/2011).
"Saya outstanding-nya nggak tahu tapi pertumbuhannya kalau nggak salah 28 persen sekitar Rp 17 triliun year to date (Januari-September). Yang jelas, dia tidak masuk di dalam lima besar lah kredit favorit perbankanlah," kata Irwan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NPL-nya pun (kredit bermasalah) cukup kecil, di bawah satu persen," tuturnya.
Biasanya, sambung Irwan bank menyalurkan kredit migas yang lebih ke arah ekplorasi dan distribusi. Terkait produksi, Irwan mengatakan memang industri migas sudah mempunyai modal yang cukup besar.
Irwan juga mengatakan dari sisi risiko, sebenarnya jauh lebih rendah jika bank menyalurkan kreditnya di migas.
"Pasti memang semuanya ada risiko. Karena itu, sebenarnya dengan teknologi sekarang sebenarnya risiko bisa diturunkan. Karena dengan teknologi canggih. Sekarang kan, ekplorasi itu tingkat kepastiannya lebih baik," kata Irwan.
Maka dari itu, Irwan menambahkan BI terus mendorong bank untuk menyalurkan kreditnya di sektor tersebut.
"Sebenarnya kalau perbankan nggak ada masalah. Sebenarnya migas ini nggak banyak yang main. Kalau di migas, coba lihat jumlah debiturnya emang nggak banyak," tutup Irwan.
(dru/dnl)











































