Demikian disampaikan Direktur Micro dan Retail Banking Bank Mandiri Budi Gunadi mengutip Data World Bank di 2011 dalam laporan berjudul 'Where does Indonesia stand in Financial Inclusion'.
"Dari hasil survei tersebut, 79% masyarakat merasa tidak memiliki uang, 9% belum memiliki pekerjaan, dan 4% diantaranya tidak merasa perlu. Kalau berdasarkan definisi World Bank, Finansial inclusion didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengakses produk dan jasa keuangan, termasuk tabungan, kredit, dan asuransi," kata Budi di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (25/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu baru bank, lalu bagaimana keinginan untuk berasuransi? Sebagian besar responden juga memiliki alasan sama dengan rendahnya akses ke bank, yaitu 45% merasa tidak memiliki uang, 29% tidak tahu dan 17% merasa tidak perlu untuk memiliki asuransi," papar Budi.
Dari data World Bank tersebut berkesimpulan memang sebanyak 49% penduduk Indonesia belum tersentuh layanan finansial. Masih lebih tinggi dibandingkan Thailand sebanyak 40% dan Malaysia 35%.
Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad sendiri mengatakan sebanyak 62% dari rumah tangga di Indonesia ternyata belum memiliki tabungan. Bank sentral terus berupaya memperluas layanan keuangan kepada masyarakat.
"Berdasarkan survey rumah tangga yang dilakukan BI, terdapat fakta berdasarkan data terakhir bahwa 62% rumah tangga tidak memiliki tabungan sama sekali," ungkap Muliaman.
(dru/dnl)











































