Demikian disampaikan oleh Direktur Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Ronald Waas dalam fit and proper test pencalonannya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/12/2011).
"Berbicara mengenai pengadaan bahan baku uang kebutuhan akan uang kertas di Indonesia selama 5 taun mencapai 6.952 ton per tahun. Bahkan di 2010 dibutuhkan sampai 7.133 ton. Hingga saat ini sebagian besar bahan baku uang masih diimpor dengan penggunaan anggaran sampai Rp 400 miliar per tahun," tutur Ronald.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahan baku di antaranya adalah impor kapas, padahal negeri kita kaya sumber daya alamnya, misalnya Gorontalo dan Flores yang terkenal dengan kapas. Oleh karena itu kita harus berani mengerahkan potensi domestik dalam pengadaan uang. Secara tidak langsung hal ini memberdayakan petani kapas dalam negari dan menggerakkan roda perekonomian di wilayah timur," kata Ronald.
Padahal menurut Ronald, jika pengelolaan bahan mentah untuk pembuatan uang kertas ini dikelola dengan benar maka laju impor dapat ditekan.
"Di salah satu negara di Asia sudah dibentuk pusat pengelolaan bahan mentah menjadi bahan baku produk uang yang dikelola pemerintah bank sentral dan dunia usaha. Ini untuk memperkecil kesenjangan kebutuhan dan suplai pengadaan uang kertas sehingga menekan laju impor," tukas Ronald.
(dnl/ang)










































