Divestasi Bank Permata Diresmikan
Senin, 19 Jul 2004 20:26 WIB
Jakarta - Senin (19/7/2004) ini diresmikan divestasi Bank Permata. Dalam rangka pelepasan maksimal 71 persen saham pemerintah di Bank Permata kepada investor strategis mulai pekan depan akan dilakukan roadshow. Roadshow ini pertama dilakukan pada investor lokal untuk selanjutnya digelar di Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, dan London. Alasan pemilihan empat tersebut karena berdasarkan minat, ternyata calon investor kebanyakan dari empat negara.Demikian disampaikan Wakil Presiden Direktur PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Raden Pardede dalam jumpa pers peresmian divestasi Bank Permata di Sudirman Square, Jl. Sudirman, Senin (19/7/2004). Hadir dalam acara ini Direktur Utama Bank Permata Agus Martowardoyo.PT PPA, menurut Pardede, belum menentukan berapa prosentase saham yang akan dilepas. "Kita memang sengaja untuk membuat fleksibilitas. Kita akan melihat terlebih dahulu berapa minat investor," katanya.PT PPA dalam melakukan seleksi investor mendasarkan pada sejumlah kriteria. Antara lain investor merupakan bank komersial atau konsorsium yang dipimpin bank komersial. Investor atau pemimpim konsorsium harus memliki equitas yang minimal sebanding dengan equitas sebanding dengan Bank Permata."Syarat ini cukup fair. karena kurang bijaksana kalau menjual Bank Permata ke perusahaan yang lebih kecil. Sangat janggal kalau nanti bank yang lebih kecil mengelola Bank Permata," ujar Pardede.Bank dengan equitas lebih kecil, lanjut Pardede, tetap boleh ikut divestasi hanya saja dia harus menjadi anggota konsorsium dan tidak boleh berdiri sendiri atau menjadi pemimpin konsorsium.Seleksi lainnya adalah berdasarkan sumber dana yang digunakan untuk membeli saham Bank Permata tidak boleh dari pinjaman atau dana dari pencucian uang. Investor juga tidak masuk dalam daftar yang dilarang oleh BI untuk memiliki saham bank di Indonesia.Mengenai harga saham di Bursa Efek Jakarta, Agus menyatakan harga tersebut sama sekali tidak mencerminkan harga yang ideal dari Bank Permata. Sebab saham yang ada di publik saat ini hanya 3 persen, sementara 97 persen masih dikuasai pemerintah. Sementara Agus Martowardoyo menyampaikan keyakiannya bahwa persoalan cessie Bank Bali tidak akan mengganggu divestasi Bank Pertama yang dijadwalkan selesai akhir tahun ini. Alasannya Bank Permata akan selalu berpegangan pada keputusan Mahkamah Agung yang sudah final dan menyatakan dana cessie itu milik Bank Bali atau kini Bank Permata.
(gtp/)











































