Bonus ini, yang biasa diberikan kepada para eksekutif senior di industri perbankan, jumlahnya sangat tinggi, bahkan bisa mencapai jutaan poundsterling.
Akan tetapi dengan makin buruknya perekonomian Uni Eropa, termasuk juga Inggris, Amerika Serikat (AS) dan China, membuat bonus yang biasanya diberikan setiap awal tahun tersebut harus dihentikan untuk sementara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal pekan ini, Association of British Insurers (ABI) sudah mengirimkan surat kepada seluruh emiten bank di Inggris, seperti Barclays dan HSBC, yang isi suratnya menyatakan kekhawatiran akan tingginya bonus di perbankan Inggris.
Asosiasi yang mewakili banyak investor di banyak bank itu juga menulis, "Kesimpulannya, anggota kami sepakat untuk tidak lagi memberikan remunerasi ini seperti biasanya."
"Mereka (investor) menginginkan bonus dan penghargaan yang nilainya lebih kecil, sesuai dengan kondisi pasar. Sangatlah penting untuk bank memberikan langkah yang bertanggung jawab," imbuhnya.
Secara terpisah, Gubernur bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) Mervyn King juga sudah meminta perbankan lokal memotong jumlah bonus bahkan dividen yang akan diberikan kepada pemegang saham. Semua ini dilakukan untuk kelancaran arus kas perbankan tersebut.
Royal Bank of Scotland (RBS) dan Lloyds Banking Group mendapat tekanan yang cukup hebat dalam rencana ini. Pasalnya, dua bank tersebut sudah diselamatkan pemerintah dengan suntikan dana hingga miliaran pounds.Saat ini, pemerintah Inggris menguasai 83% saham RBS dan hampir 41% di Lloyds.
Perdana Menteri Inggris David Cameron sudah menyatakan bahwa pemerintah akan menolak pemberian bonus oleh RBS kepada karyawannya. Soalnya, jumlahnya cukup fantastis, sekitar Β£500 juta atau sekitar Rp 7 triliun.
(ang/dnl)











































