Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengungkapkan perbankan juga harus tumbuh secara berkesinambungan. Artinya Pengaturan dan pengawasan perbankan ke depan harus bersifat dinamis dan berkelanjutan ( sustainable ).
"Di satu sisi pengaturan dan pengawasan perbankan harus terus disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan praktek terbaik yang berlaku secara internasional. Di sisi lain harus pula memberikan kesempatan perbankan sebagai suatu badan usaha untuk mencari keuntungan secara sehat dan berkelanjutan sehingga mampu untuk memupuk modal," ungkap Sigit dalam perbincangannya dengan detikFinance di Jakarta, Minggu (11/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kinerja bank hanya diukur dari kredit yang diberikan dan berapa bunganya. Padahal bank juga sebagai lembaga penyimpan dana sehingga masyarakat dapat menyimpan dana atau menabung di bank.
"Bank juga menyelenggarakan sistem pembayaran dan menyediakan jasa perbankan lainnya , sehingga memudahkan masyarakat melakukan transaksi keuangan. Dan jangan lupa bank juga pembayar pajak terbesar. Bank yang tumbuh lebih sehat secara berkelanjutan akan memperoleh laba lebih besar, bisa memupuk modal dari laba untuk tumbuh secara 'sustainable' dan membayar pajak lebih besar kepada negara," paparnya.
Kinerja perbankan Indonesia, sambung Sigit, dalam beberapa tahun terakhir ini secara umum sangat baik. Perbankan sekarang ini, menurut Sigit ibarat angsa bertelur emas.
"Jadi, kebijakan pengaturan dan pengawasan perbankan ke depan sebaiknya jangan sampai berkecenderungan seperti kiasan membunuh angsa bertelur emas. Justru sebaiknya kita jaga angsanya supaya tumbuh sehat, dan kita manfaatkan telur emasnya untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa," tegasnya.
Dikatakan Sigit lebih jauh, kalangan perbankan juga setuju dengan Gubernur BI bahwa perbankan harus semakin efisien operasinya. Karena jika perbankan semakin efisien ini akan menurunkan biaya operasi dan pada akhirnya akan menurunkan bunga kredit.
"Namun karena peningkatan efisiensi tidak bisa dilakukan dalam waktu pendek maka sebaiknya kebijakan BI diarahkan untuk menurunkan suku bunga dana sebelum menurunkan suku bunga kredit. Jadi selain mengelola inflasi dan menurunkan BI rate, langkah berikutnya adalah $enurunka suku bunga dana. Kalau suku bunga dana turun , maka segera akan diikuti penurunan bunga kredit," pungkasnya.
(dru/dru)











































