Pengguna Kartu Kredit Platinum Masih Jauh di Bawah Target
Kamis, 22 Jul 2004 15:00 WIB
Jakarta - Pendirian Biro Informasi Kredit (BIK) diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan kartu kredit, terutama untuk pangsa pasar platinum. Saat ini, pengguna kartu kredit platinum masih di bawah 20.000 pelanggan, padahal potensinya bisa lebih dari 1 juta pelanggan.Demikian disampaikan Country Manager Visa Internasional Indonesia, Ellyana C. Fuad, dalam peluncuran kartu kredit Visa Platinum HSBC di Mercantile Club, gedung World Trade Center, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (22/7/2004).Menurut Ellyana, tanpa adanya BIK, bank-bank enggan untuk menggarap pangsa pasar tertentu, termasuk segmen platinum. "Karena tanpa biro kredit, bank tidak punya informasi yang lengkap untuk menggarap pangsa pasar tertentu," katanya.Dijelaskan, kartu kredit Visa Platinum ditujukan untuk mereka yang berpenghasilan minimum Rp 500 juta per tahun. HSBC menargetkan bisa meraih 5.000 nasabah untuk kartu kredit Visa Platinum-nya. Calon nasabah yang dibidik HSCB adalah kalangan enterpreneur dan direksi perusahaan.Menurut Vice President Marketing Corporation HSBC, Ichsan Tobing, karena transaksi untuk kartu kredit jenis platinum biasanya melibatkan transaksi dalam jumlah besar, maka prinsip kehati-hatian akan sangat diterapkan. Jika ada transaksi dalam jumlah besar, maka bank akan langsung mengkonfirmasi kepada nasabah pemegang kartu kredit tersebut.Untuk pemakaian kartu kredit sebagai alat pembayaran, ditambahkan Ellyana, saat ini terhitung masih rendah yakni hanya mencapai 1,2 persen dari jumlah penduduk. Sementara di luar negeri sudah mencapai 4 persen, terutama di negara maju. Padahal, lanjut dia, pemakaian kartu kredit di samping memudahkan pembayaran juga akan membantu mengelola keuangan.Saat ini, Visa masih mendominasi pangsa pasar kartu kredit di Indonesia dengan penguasaan pasar mencapai 70 persen.
(ani/)











































