Demikian disampaikan Direktur Utama Bank Mutiara Maryono saat media gathering dengan di Jakarta, Rabu (28/12/2011).
"Recovery aset sampai Desember mencapai 38% dari aset bermasalah Rp 6,8 triliun, setara Rp 2,5 triliun. Hanya 2011 Rp 750 miliar," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laba dari prognosa 2011 laba akan tumbuh 25%, menjadi Rp 290 miliar. Rasio CAR diatas 9%, dengan NPL 3,4%-3,5%, LDR 84,7% dan BOPO 81%," tuturnya.
Sementara tahun depan, perseroan mengaku tidak maksimal melaksanakan recovery aset. Sehingga ada dampak kepada laba bersih perseroan di 2012.
Berdasarkan RKAP perseroan, laba tahun depan diperkirakan mencapai Rp 121 miliar, dengan total aset Rp 14,78 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) sampai Desember 2012 sebesar Rp 12,95 triliun naik dari tahun ini Rp 10,8 triliun dan ekuitas Rp 1,13 triliun.
"DPK perseroan akan fokus kepada dana murah. Konsentrasi kepada turunkan high cost fund seperti deposito ke low cost fund. Tabungan dan giro akan naik dari 11% menjadi 16% tahun depan," tegasnya.
Lanjut Maryono, tahun depan perseroan akan fokus pada perbaikan kualitas aset dengan menaikkan price book value. Kemudian menjadi fokus bisnis dan menjaga kecukupan modal 9%-9,5%.
"Fokus kami pada bisnis ritel, small medium," imbuhnya.
"Sementara untuk divestasi merupakan kewenangan pemegang saham. Kemarin dicoba 2011 tapi peminatnya tidak memenuhi syarat. Akan coba lagi awal 2012. Mana investor dengan harga yang ditawarkan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)," pungkasnya.
(wep/hen)











































