Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Harry Warganegara menjelaskan, pergerakan bunga kredit sektor produktif seperti jalan di tempat. Padahal Bank Indonesia telah melakukan terobosan untuk menciptakan tren penurunan bunga.
"Sayangnnya bunga single digit, utamanya bank pemerintah, belum menyasar kredit produktif seperti kredit modal kerja dan investasi," katanya di Jakarta, Minggu (15/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan gencarnya penyaluran kredit produktif, seiring dengan turunnya suku bunga, maka inflasi akan tertekan. Ekonomi juga akan bertumbuh. Namun jika kredit konsumsi lebih banyak terserap masyarakat maka akan timbul iflasi.
"Yang dunia usaha harapkan itu bagaimana industri disektor-sektor produktif ini bisa bergerak. Kredit produktiflah semestinya yang sangat dibutuhkan," tambahnya.
Seperti yang baru saja dilakukan Bank Tabungan Negara. Salah satu bank BUMN ini memberlakukan suku bunga kredit single digit pada kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA). Yakni 9% atas kredit di atas Rp 350 juta, dan di bawah Rp 350 juta sebesar 9,75%.
"Sayangnya, bunga single digit ini belum menyentuh kredit ke sektor-sektor produktif," ucapnya.
Lanjutnya, bank swasta juga lebih berani berinisiatif menawarkan bunga kredit korporasi single digit. Ini juga berlaku untuk kredit mikro dan UKM.
"Kebijakan Penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) oleh beberapa bank besar sudah tepat. Namun penurunannya harus berdampak pada suku bunga kredit-kredit produktif yang memacu dunia usaha," imbuh Harry.
(wep/dnl)











































