Pengusaha Protes, Bank Lebih Pilih Pangkas Bunga Kredit Konsumsi

Pengusaha Protes, Bank Lebih Pilih Pangkas Bunga Kredit Konsumsi

- detikFinance
Minggu, 15 Jan 2012 13:45 WIB
Pengusaha Protes, Bank Lebih Pilih Pangkas Bunga Kredit Konsumsi
Jakarta - Pengusaha Muda menyayangkan perbankan yang belum juga menurunkan bunga menjadi single digit untuk kredit produktif. Sementara perbankan, khususnya bank BUMN memilih menurunkan bunga kredit konsumsi, yang justru tidak memberi nilai tambah pada ekonomi.

Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Harry Warganegara menjelaskan, pergerakan bunga kredit sektor produktif seperti jalan di tempat. Padahal Bank Indonesia telah melakukan terobosan untuk menciptakan tren penurunan bunga.

"Sayangnnya bunga single digit, utamanya bank pemerintah, belum menyasar kredit produktif seperti kredit modal kerja dan investasi," katanya di Jakarta, Minggu (15/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rata-rata malah kredit konsumtif. Padahal ekonomi akan bergerak lebih cepat kalau kredit produktif ini yang kena single digit," tuturnya.

Dengan gencarnya penyaluran kredit produktif, seiring dengan turunnya suku bunga, maka inflasi akan tertekan. Ekonomi juga akan bertumbuh. Namun jika kredit konsumsi lebih banyak terserap masyarakat maka akan timbul iflasi.

"Yang dunia usaha harapkan itu bagaimana industri disektor-sektor produktif ini bisa bergerak. Kredit produktiflah semestinya yang sangat dibutuhkan," tambahnya.

Seperti yang baru saja dilakukan Bank Tabungan Negara. Salah satu bank BUMN ini memberlakukan suku bunga kredit single digit pada kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA). Yakni 9% atas kredit di atas Rp 350 juta, dan di bawah Rp 350 juta sebesar 9,75%.

"Sayangnya, bunga single digit ini belum menyentuh kredit ke sektor-sektor produktif," ucapnya.

Lanjutnya, bank swasta juga lebih berani berinisiatif menawarkan bunga kredit korporasi single digit. Ini juga berlaku untuk kredit mikro dan UKM.

"Kebijakan Penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) oleh beberapa bank besar sudah tepat. Namun penurunannya harus berdampak pada suku bunga kredit-kredit produktif yang memacu dunia usaha," imbuh Harry.


(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads