Bank sentral menilai tingkat suku bunga simpanan menjadi salah satu beban bagi upaya penurunan suku bunga pinjaman perbankan.
"Sumber utama lending rate (bunga kredit) yang tinggi itu bukan pada rate dan overhead cost, walau itu juga menjadi komponen. Yang pertama itu adalah deposit rate (bunga deposito) yang terlalu tinggi di Indonesia," kata Gubernur BI Darmin Nasution dalam seminar mengenai investment grade di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (18/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Malaysia dan Thailand itu sudah lebih efisien. Kita bandingkan saja dengan Filipina yang mirip-mirip, deposit rate di sana itu 3%, padahal inflasi 4,5%," terang Darmin.
Ia menambahkan, untuk bunga deposito yang lebih rendah dari inflasi memerlukan instrumen investasi lebih banyak, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, Kementerian Keuangan, BUMN, dan sektor swasta.
"Artinya pilihan penempatan dana harus bersaing secara ketat, dan mestinya tidak ada kelembagaan yang mendorong tingkat bunga itu semakin tinggi. Kita sudah koordinasi dengan LPS (lembaga penjamin simpanan), apakah tingkat bunga penjaminan itu di atas BI rate," tuturnya.
Efisiensi suku bunga dari dua sisi baik pinjaman dan simpanan diharapkan bisa mendorong efisiensi secara keseluruhan sehingga tercipta keseimbangan harga tercipta pada batas wajar.
"Di sektor keuangan sendiri, langkah-langkah yang dilakukan bahwa BI sedang berusaha mendorong agar efisiensi terjadi, tingkat bunga turun, equilibrium harga ada pada batas wajar. Ini tidak mudah, perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan perlu waktu," jelas Mantan Dirjen Pajak ini.
(dru/dnl)











































