Burhanuddin: BI Belum Lakukan Intervensi ke Pasar

Burhanuddin: BI Belum Lakukan Intervensi ke Pasar

- detikFinance
Selasa, 27 Jul 2004 13:20 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menegaskan meskipun rupiah melemah dalam beberapa hari ini, Bank Indonesia belum melakukan intervensi namun tetap berjaga-jaga di pasar. BI akan melihat terlebih dahulu seberapa perubahan rupiah yang disebabkan sejumlah faktor di dalam maupun di luar negeri."Kita belum intervensi. Menurut perhitungan kita biarkan dulu semua ekspektasi, perubahan di setiap pasar setelah itu kita lihat arahnya kemana," kata Burhanuddin Abdullah usai mengikuti pelantikan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior BI di kantor Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Selasa (27/7/2004).Sementara Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin mengatakan bahwa volatilitas rupiah jika hanya sekitar Rp 100 bukan merupakan volatilitas yang besar. "Kalau hanya Rp 100 masih bisa diterima pasar. Kalau rupiah tidak bergerak pelaku pasar tidak untung," kata Aslim.Burhanuddin menjelaskan bahwa melemah atau menguatnya rupiah sebagai sesuatu yang normal. Saat ini sejumlah faktor eksternal dan internal mempengaruhi pergerakan rupiah misalnya dari segi internal adalah ledakan bom di KPU.Aslim juga menambahkan untuk faktor regional adalah jika seluruh mata uang regional menguat maka rupiah akan turut menguat. "Pergerakan rupiah sama dengan pergerakan mata uang regional sekarang," tuturnya. Munculnya teror bom diakui Aslim meskipun ada dampanya namun kecil dan bersifat sementara sehingga akan segera hilang. Yang jelas BI akan selalu ada di pasar untuk menjaga kestabilan rupiah. Gubernur BI Burhanuddin Abdullah menyebutkan menguatnya dolar AS saat ini disebabkan adanya pemikiran Allan Greenspan. "Dan faktanya kita akan melihat pada pertemuan The Fed Agustus nanti," ungkapnya. Disebutkan adanya ekspektasi dan kemudian direspon adanya arus dana keluar sebagai hal yang wajar. "Tapi perhitungan kita jumlahnya tidak terlalu besar. Berdasarkan laporan pagi ini hanya sekitar US$ 300-400 juta, jadi kecil sekali," ujarnya. (san/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads