Demikian disampaikan dalam pengumuman oleh LPS yang dikutip, Kamis (2/2/2012).
"Dalam rangka memenuhi Pasal 42 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang LPS, dengan ini LPS mengumumkan rencana penjualan seluruh saham PT Bank Mutiara Tbk. Saham akan ditawarkan melalui penjualan strategis kepada calon investor yang memenuhi kriteria," demikian isi pengumuman LPS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Adapun kriteria yang diinginkan oleh LPS untuk calon pembeli Bank Mutiara adalah:
- Memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk Peraturan Bank Indonesia.
- Bukan merupakan Pemegang Saham Lama dan bukan pihak terafiliasi atau memiliki hubungan keluarga dengan Pemegang Saham Lama.
- Mempunyai komitmen dan kemampuan keuangan yang kuat untuk memenuhi seluruh kewajiban pembayaran atas pembelian Saham secara tepat waktu.
- Mempunyai pengalaman dalam industri perbankan dan/atau mampu menunjukkan kemampuan untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan industri perbankan di Indonesia.
- Tidak termasuk dalam daftar negatif atau daftar orang tercela di industri perbankan di Indonesia.
Penjualan ini merupakan amanat UU bahwa dalam 3 tahun sejak diambil alih, Bank Mutiara wajib dilepas kembali. Tahun lalu, LPS sudah mencobanya namun gagal dengan alasan calon pembeli tidak memenuhi kualifikasi yang disyaaratkan.
LPS menyatakan telah menguasai 99,996% saham PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) melalui bailout senilai Rp 6,7 triliun. Pemegang saham lama terdilusi paksa menjadi hanya sebesar 0,004% dan akan hilang setelah dijual nanti. Setelah LPS berhasil menjual Bank Mutiara dalam jangka waktu 3-5 tahun ke depan, pemilik baru akan mengambil alih 100% saham Bank Mutiara.
Hingga akhir 2011, LPS menyampaikan Bank Mutiara memperolehan laba Rp 291 miliar (unaudited). Angka ini naik dari tahun sebelumnya Rp 218 miliar.
Anggota Dewan Komisioner LPS Mirza Adityaswara menambahkan, penyaluran kredit bank mutiara juga naik 49,2% menjadi Rp 9,4 triliun, dari sebelumnya Rp 6,3 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) pun naik 25,84% menjadi Rp 11,2 triliun pada Desember 2011, dibanding akhir tahun 2010 sebesar Rp 8,9 triliun.
(dnl/qom)











































