"Secara umum kinerja perbankan di DIY menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Khusus bank umum, penyaluran kredit meningkat 23,92 persen menjadi Rp 15,75 persen," kata Pemimpin Kantor Bank Indonesia (KBI) Yogyakarta, Dewi setyowati kepada wartawan di kantor jl Senopati, Yogyakarta, Kamis (2/2/2012).
Berdasarkan penggunaanya kata Dewi, kredit bank umum ke sektor modal kerja meningkat 32,48 persen menjadi Rp 6,46 Triliun. Kredit konsumsi naik 22,65 persen menjadi Rp 7,11 Triliun. Sedangkan kredit investasi tumbuh 7,03 persen menjadi Rp 2,18 Triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adanya penurunan suku bunga kredit juga menjadi pemicu meningkatnya kredit serta agresifnya perbankan dalam menawarkan kredit," papar Dewi.
Dewi menambahkan untuk bank Syariah sepanjang tahun 2011 juga mengalami pertumbuhan yang tinggi. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 35,5 persen menjadi Rp 1,67 Triliun dan pembiayaan tumbuh 58,80 persen menjadi Rp 1,39 Triliun. Pada tahun 2011, aset perbankan syariah tumbuh 33,58 persen menjadi Rp 2,36 Triliun.
"Peningkatan ini didorong maraknya pendirian bank syariah dalam dua tahun terakhir di DIY serta didukung potensi pasar yang masih cukup besar," katanya.
Untuk usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tahun 2011 juga tumbuh relatif tinggi. Penghimpunan DPK tumbuh 20,74 persen dan kredit yang disalurkan tumbuh 17,00 persen.
Untuk kredit UMKM yang penggunaannya untuk mendukung kegiatan produktif, baik dalam bentuk Modal Kerja dan Investasi juga meningkat cukup pesat. Kredit UMKM tercatat sebesar Rp 7,0 triliun atau naik 29,43 persen dengan jumlah rekening mencapai 232.136 rekening peminjam.
Menurut Dewi, kenaikan tertinggi terjadi pada kredit investasi sebesar 31,29 persen menjadi Rp 1,59 triliun. Sedangkan kredit modal kerja naik 28,90 persen menjadi Rp 5,4 Triliun.
"Meningkatnya aktifitas ekonomi di DIY turut mendukung perkembangan UMKM yang menjadi salah satu ciri khas perekonomian di DIY," pungkas Dewi.
(bgs/qom)











































