"Belum pernah ketemu," kata Gita ketika ditanya kabar Yawadwipa di sela acara Jakarta Food Security Summit di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/12/2012).
Padahal Presiden Direktur Yawadwipa C. Christopher Holm mengatakan saat pendirian perusahaan pada 9 Januari 2012, perusahaan ini didukung oleh Menteri Perdagangan yaitu Gita Wirjawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi ini, Gita menyatakan sekitar 2 (dua) bulan lalu dirinya pernah bertemu pengacara Yawadwipa. "Dua bulan lalu saya ketemu dengan lawyers mereka. Mereka memang mengenalkan saya, atau meminta keterangan kepada saya tentang kondisi makro Indonesia, dan saya jelaskan," ujarnya.
Namun ujar Gita yang juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini, pembicaraan antara dirinya dengan pengacara Yawadwipa tidak mengarah pada investasi di bidang perbankan.
"Tapi kita belum ngomongin masalah itu (Bank Mutiara)," ucapnya.
Namun Gita menilai siapa saja berhak dan juga mendukung siapa saja yang ingin berinvestasi di Indonesia.
"Apalagi setahu saya, pemilik Bank Mutiara yaitu LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), masih akan melakukan roadshow untuk mengundang para investor yang berminat membeli Bank Mutiara," tandasnya.
Seperti diketahui, Yawadwipa Companies kemarin tiba-tiba menyatakan berniat untuk menawar saham bank yang sudah di-bailout oleh pemerintah tersebut. Nilai transaksi dari pembelian diperkirakan sebanyak US$ 750 juta atau sekitar Rp 6,75 triliun, sesuai dengan dana talangan pemerintah 2008 lalu.
Yawadwipa memang perusahaan finansial yang belum banyak dikenal di Indonesia. Wajar saja, perusahaan ini ternyata baru dibentuk awal tahun ini, tepatnya pada 9 Januari 2012.
Perusahaan baru tersebut memiliki dua kantor, seperti tertulis dalam situs resminya, yaitu di Jakarta dan Singapura. Alamat lengkap kantor Jakarta di Menara 2 lantai 17 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara kantornya di Singapura terletak di Singapore Land Tower lantai 37 di jalan 50 Raffles Place.
Yawadwipa saat ini masih dalam proses perizinan untuk meluncurkan Java Fund. Setelah mendapat izin, perusahaan membidik dana kelola hingga US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9 triliun.
Dana sebanyak itu akan digunakan untuk berbagai investasi di Indonesia. Targetnya, Yawadwipa ingin menjadi perusahaan investasi swasta terbesar di Indonesia.
Yawadwipa juga sudah mengungkapkan ambisi besarnya untuk menjadikan Bank Mutiara seperti BCA. Yawadwipa mengaku ingin mengekor sukses Djarum yang kini menangguk untung besar setelah membeli BCA beberapa tahun silam.
(dnl/dnl)










































