Mantan Dirut Bank Mandiri ini mengatakan, jangan sampai Yawadwipa hanya dijadikan 'kendaraan' atau Special Purpose Vehicle (SPV) pihak-pihak tertentu untuk membeli Bank Mutiara.
"Bahwa kadang ada satu investor masih menggunakan SPV (special purpose vehicle) dimungkinkan," jelasnya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (7/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau seandainya ada calon pembeli mohon untuk dapat dilakukan satu, screening atau kajian dulu tentang kredibilitas calon pembeli dan juga kondisi serta kemampuan keuangan dari calon pembeli," jelasnya.
Calon pembeli tersebut, lanjut Agus Marto, harus berani mengungkapkan jati dirinya sebenarnya. "Tapi siapa investor utama yang ada di belakang SPV itu harus mengungkapkan jati dirinya. Jadi supaya proses ini dapat dilakukan dengan baik," tegasnya.
Agus Marto menegaskan di sektor jasa keuangan semua aturan harus tegas dilakukan. "Hal ini karena kalau di bidang jasa keuangan itu sangat regulated atau diatur," tandasnya.
Yawadwipa memang perusahaan finansial yang belum banyak dikenal di Indonesia. Wajar saja, perusahaan ini ternyata baru dibentuk awal tahun ini, tepatnya pada 9 Januari 2012.
Perusahaan baru tersebut memiliki dua kantor, seperti tertulis dalam situs resminya, yaitu di Jakarta dan Singapura. Alamat lengkap kantor Jakarta di Menara 2 lantai 17 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara kantornya di Singapura terletak di Singapore Land Tower lantai 37 di jalan 50 Raffles Place.
Holm menyatakan telah menyertakan modal sebanyak US$ 25 juta di perusahaan tersebut. Perusahaan juga menunjuk Prasetyo Singgih sebagai Direktur Operasi Yawadwipa.
Yawadwipa saat ini masih dalam proses perizinan untuk meluncurkan Java Fund. Setelah mendapat izin, perusahaan membidik dana kelola hingga US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9 triliun.
Dana sebanyak itu akan digunakan untuk berbagai investasi di Indonesia. Targetnya, Yawadwipa ingin menjadi perusahaan investasi swasta terbesar di Indonesia.
Yawadwipa juga sudah mengungkapkan ambisi besarnya untuk menjadikan Bank Mutiara seperti BCA. Yawadwipa mengaku ingin mengekor sukses Djarum yang kini menangguk untung besar setelah membeli BCA beberapa tahun silam.
(nia/dnl)











































