Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo beralasan, Bank Mutiara memiliki risiko yang tinggi jika BNI mengambil alih keseluruhan asetnya.
"Political risk-nya (risiko politik) tinggi. Nanti kalau Bank Mutiara ingatnya Bank Century," kata Gatot di kantornya, Jakarta, Rabu (15/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu belum kita hitung," paparnya.
Sebelumnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) juga menyatakan tidak berminat membeli Bank Mutiara. Alasannya, harga yang dipasang LPS terlalu mahal. "Wah nggak deh, itu kemahalan itu Rp 6,7 triliun Bank Mutiara," kata Direktur Utama BRI Sofyan Basir.
Seperti diketahui, LPS selaku pemilik Bank Mutiara berniat melego bank tersebut. LPS tetap berharap bisa meraup Rp 6,7 triliun dari penjualan bank tersebut, atau senilai dengan dana bailout yang dikucurkan pemerintah ketika bank tersebut mengalami kesulitan likuiditas. LPS tercatat sudah 2 kali gagal melego Bank Mutiara pada harga tersebut.
Terbaru, sebuah perusahaan equity fund membuat heboh dengan rencananya membeli Bank Mutiara dengan harga mahal Rp 6,7 triliun. Yawadwipa Companies bahkan mengaku sudah mengajukan tawaran resmi melalui Danareksa selaku agen penjual Bank Mutiara.
(wep/dnl)











































