Jangan Tergiur Deposito, Berinvestasilah di Instrumen Lain

Jangan Tergiur Deposito, Berinvestasilah di Instrumen Lain

- detikFinance
Jumat, 17 Feb 2012 14:50 WIB
Jangan Tergiur Deposito, Berinvestasilah di Instrumen Lain
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyayangkan industri perbankan RI yang mematok bunga deposito cukup tinggi. Padahal negara-negara di Asia mematok bunga deposito bank di bawah tingkat inflasi masing-masing.

Sehingga banyak orang yang hanya menyimpan investasi di instrumen tersebut. Padahal, banyak instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

"Memang kita ini pengecualian di Asia Tenggara. Di dunia barang kali. Di Asia Tenggara semua bunga deposito itu selalu lebih rendah dari inflasi," jelas Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (17/2/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, di Filipina bunga deposito hanya antara 3,5-4 persen. Hal ini dibawah inflasi yang di Filipina hanya 5,5 persen.

"Di Malaysia dan Thailand bunga deposito antara 2,5-3 persen, inflasinya 4-4,5 persen. Tapi di kita selalu diinginkan bunga deposito harus lebih tinggi dari inflasi," tuturnya.

"Padahal itu yang punya uang ongkang-ongkang kaki saja, ngga ada risikonya itu," imbuh Darmin.

Menurutnya, para orang kaya tersebut harusnya jangan menginvestasikan dananya di deposito. Justru banyak instrumen lain yang memberikan imbal hasil tinggi. Jika bunga deposito turun, sudah pasti bunga kredit turun.

"Kalau mau dapat tinggi, ya taruhlah di instrumen investasi. Memang ada resikonya, lebih tinggi, atau berusaha, jadi lebih tinggi lagi dapatnya," tambahnya.

Lebih jauh Darmin berharap, RI dapat sejalan dengan negara-negara sekitar. Terutama dalam hal penurunan bunga deposito.

"Iya jangan kalian harap langsung turun mendekati FASBI bunga depositonya. Kita meyakinkan LPS, meyakinkan Kemenkeu, meyakinkan pasar, mari kita pelan-pelan menuju itu, supaya ekonomi kita lebih efisien, supaya tingkat bunga UKM kita kalau mau minjam jangan terlalu mahal," ungkapnya.

"Di Asia Tenggara ini kita yang paling rendah kreditnya dibandingkan GDP. Kita 30-35 persen, negara lain 100 persen. Bagaimana mau bersaing? Bagaimana mau maju? Ini semua bertahap. Tapi kita harus sama pemahamannya. Kalau ngga sama, ngga berjalan baik," tutup Darmin.

(dru/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads