Bukopin Syariah Gandeng AAA Sekuritas Jualan Sukri

Bukopin Syariah Gandeng AAA Sekuritas Jualan Sukri

- detikFinance
Senin, 27 Feb 2012 14:03 WIB
Bukopin Syariah Gandeng AAA Sekuritas Jualan Sukri
Jakarta - PT Bank Syariah Bukopin (BSB) bekerjasama dengan PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas (AAA Sekuritas) untuk menjadi sub agen penjualan sukuk negara ritel (sukri) Seri SR-004 tahun 2012. BSB mengincar peningkatan pendapatan non bunga dari kerjasama tersebut.

"Kerjasama BSB dan AAA Sekuritas ini dalam rangka melakukan penjualan Sukuk Negara Ritel tahun 2012 sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku dan Memorandum Informasi Sukuk Negara Ritel yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Kami berminat menjadi sub agen penjual sukuk ritel karena instrumen sukuk menjadi alternatif pengelolaan dana investasi membuat pasar sukuk masih terbuka lebar," kata Dirut BSB Riyanto dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (27/2/2012).

Dengan kerjasama ini, Riyanto mengatakan Bank Syariah Bukopin ikut berperan aktif dalam menyukseskan penjualan sukuk ini. "Khusus bagi Bank Syariah Bukopin sendiri diharapkan bisa memberikan peningkatan fee based income ke Perseroan," tambahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah berencana menerbitkan instrumen sukuk ritel Seri SR-004 di tahun 2012 yang akan ditawarkan ke masyarakat pada tanggal 5-16 Maret 2012. Sukuk ritel ini akan memiliki jangka waktu 3,5 tahun.

Sukuk ritel ini dapat dibeli oleh masyarakat individu dengan nominal minimal Rp 5 juta. Jenis akad adalah Ijaroh–Asset To Be Leased sehingga memberikan pendapatan yang pasti bagi investor.

BSB sendiri hingga akhir bulan Desember 2011 (unaudited) mencatata pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat sebesar 41,3% menjadi Rp 2,292 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp 1,622 triliun.

Peningkatan ini diiringi juga kenaikan total aset sebesar 24,47% menjadi Rp 2,731 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,194 triliun. Laba bersih akhir tahun 2011 meningkat 47,59% menjadi Rp 15,105 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Rasio kecukupan Modal (CAR) meningkat menjadi 14,92% dan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) turun menjadi 1,74%.
(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads