Dianggap Tak Becus Urus Pencucian Uang, BI dan PPATK Bebenah

Dianggap Tak Becus Urus Pencucian Uang, BI dan PPATK Bebenah

- detikFinance
Senin, 05 Mar 2012 17:04 WIB
Dianggap Tak Becus Urus Pencucian Uang, BI dan PPATK Bebenah
Jakarta - Dianggap lemah dalam pelaksanaan program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT), Bank Indonesia minta semua bank, baik bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) lebih mengenal nasabahnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah menyatakan pada tanggal 16 Februari 2012 lalu, Financial Action Task Force (FATF) mengeluarkan public statement yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang dinilai masih memiliki kelemahan dalam penerapan Program APU dan PPT.

"Sekitar 10 tahun lalu, Indonesia dimasukkan dalam daftar hitam Non Cooperative Countries and Territories (NCTTs) oleh FTAF. Namun, pada tahun 2005, Indonesia sudah keluar, hanya saja saat ini bukan dimasukkan, kita hanya disebutkan," ujarnya di Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (5/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Halim, kelemahan tersebut lebih kepada pelaksanaan di lapangan. Untuk itu, pihaknya akan melakukan peningkatan pengawasan dan meminta pihak bank untuk lebih mengenal nasabahnya.

"Ada beberapa aturan lebih banyak bukan di bidang perbankan, tapi tekait kelemahan pelaksanaan di lapangan, baik perbankan maupun di keuanagan lainnya, tapi kita berusaha agar kelemahan di perbankan dapat ditutup semaksimal mungkin," tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Kepala Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso. Dia meminta agar perbankan dan lembaga keuangan lainnya tidak hanya mengejar target semata, tetapi perlu juga mengenal nasabah.

"Jangan hanya menjadi sales atau marketing, pokoknya dana masuk, jangan hanya masalah aplikasi masuk tapi cobalah punya hati melihat dan mengenali nasabahnya itu, coba kalo ada korupsi , kan itu musuh bersama, membuat negara jatuh miskin, tidak maju-maju. Kalau kita hanya mementingkan kepentingan pribadi atau institusi itu kan sayang dimana rasa kejuangannya, sementara ada banyak yang korupsi," paparnya.

Selain mengenal para nasabah, lanjut Agus, harus dikenal juga kebiasaan menabungnya.

"Kalau terkait terosisme, behaviour tabungannya biasanya pass bye, dilakukan anak relatif muda 18-21 tahun. Rekening tidur tidak pernah terpakai, tiba-tiba rekening ini dapat transfer dari berbagai tempat yang bukan teman dia dan begitu sampai langsung ditarik. Jumlahnya kecil-kecil, karena bikin bom tidak perlu miliaran. Untuk transaksi kecil-kecilan pun bisa kita curigai ada apa," pungkasnya.

(nia/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads