Tiga bank lainnya, Ally, Suntrust dan MetLife juga gagal tes tersebut. Sementara 15 bank besar lainnya berhasil melewati ujian krisis tersebut.
Namun, jika digabungkan, 19 bank tersebut bisa menahan tekanan yang terjadi saat krisis karena sudah mampu membuat struktur modal yang kuat selama tiga tahun pasca masa resesi di 2008 silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengumuman itu mendorong sejumlah bank dengan modal yang sudah cukup tinggi berniat menambah rasio pembagian dividennya kepada para pemegang saham.
JPMorgan Chase menyatakan akan menambah rasio dividen menjadi 20%, ditambah rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai US$ 15 miliar. Wells Fargo juga berniat melakukan hal yang sama.
Tes yang dilakukan oleh the Fed itu adalah bagaimana perbankan menghadapi situasi krisis seperti di tahun 2008 lalu. Salah satu caranya dengan menurunkan harga sahamnya 50%, penurunan harga rumah 21% dan tingkat penganggura naik hingga 12%, ditambah sedikit kondisi krisis Eropa.
Hasilnya, 19 bank itu secara bersamaan kehilangan dana US$ 534 dalam sembilan bulan. Akan tetapi, kata the Fed, modal tier one bank-bank besar itu masih cukup tinggi untuk menahan krisis, tidak seperti di tahun 2008 lalu.
Citigroup berada di posisi terbawah dari hasil tes tersebut. Rasio modalnya turun menjadi 4,9%, masih di bawah tingkat minimum the Fed di 5%.
Posisi CAR Citigroup berada di level 11,7% pada triwulan III- 2011 kemarin, dengan posisi tertingginya di 19%. Namun, dalam pernyataan tertulisnya, Citigroup meminta the Fed memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hasil tes tersebut.
"Citi tetap menjadi salah satu bank dengan kapitalisasi terbesar di dunia," kata pernyataan tertulis Citi tersebut.
(ang/dru)











































