Laks Minta PGN Cari Dana dari Dalam Negeri Untuk Biaya Pipanisasi Gas

Laks Minta PGN Cari Dana dari Dalam Negeri Untuk Biaya Pipanisasi Gas

- detikFinance
Senin, 09 Agu 2004 13:40 WIB
Jakarta - Menneg BUMN Laksamana Sukardi meminta manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) untuk mencari pendanaan dari dalam negeri dalam rangka menutupi kekurangan pembiayaan pipanisasi gas dari Sumatera Selatan-Jawa Barat sepanjang 600 kilometer. "Saya sudah mengarahkan manajemen agar mencari pendanaan dari dalam negeri saja. Jika stabilitas ekonomi dan politik cukup baik akan banyak opsi yang dilakukan manajemen seperti penawaran secondary offering, obligasi atau pinjaman. PGN memiliki fleksibilitas yang tinggi sesuai dengan kebutuhannya dan kondisi pasar. Tapi kami minta yang diutamakan dari dalam negeri," kata Laksamana usai penandatangangani kontrak jual beli gas PGN-ConocoPhillips di Hotel Regent, Jakarta, Senin (9/8/2004).Dia juga menegaskan agar pencarian dana bisa melihat resiko ke depan yang ditanggung PGN, seperti perbedaan kurs. Sedangkan Dirut PGN WMP Simandjuntak menegaskan penerbitan obligasi dalam mata uang rupiah masih dalam wacana karena jika diterbitkan dalam rupiah maka harus diswap lagi ke dalam dolar. Hal ini terjadi karena operasional PGN menggunakan dolar sehingga harus ada net opened position yang bisa ditukarkan setiap saat ke dalam dolar. Namun belum ada bank yang bersedia melakukan swap tersebut. Menurutnya, penerbitan obligasi dilakukan di akhir tahun. Itupun kalau tahun depan pasar internasional cukup bagus. Hingga semester I 2004 penjualan PGN telah naik 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan Direktur Keuangan PGN Djoko Pramono mengatakan setelah penandatanganan MoU ini masih ada penandatanganan lain yang akan ditandatangani, yaitu dengan supplier gas di Jatinangor di Jabar dengan kapasitas 15 juta kaki kubik selama 10 tahun. Sedangkan pada bulan Oktober 2004, MoU dengan Kodeco dengan niali US$ 20-US$30 juta. Penandatanganan tersebut bisa meningkatkan kapasitas produksi PGN yang saat ini 280 juta kaki kubik per hari menjadi 300 juta kaki kubik per hari. Sehingga pendapatan 2004 diperkirakan naik 15 persen dibandingkan 2003. Sementara mengenai opsi penerbitan obligasi rupiah kemungkinan dilakukan pada kuartal IV tahun 2004 atau kuartal I 2005. Selain opsi obligasi masih ada opsi lain yaitu project financing, sejauh ini sudah ada beberapa investor yang menyatakan minatnya. (nit/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads