Pencapaian laba tersebut ditopang oleh penyaluran kredit yang mencapai Rp 283,14 triliun atau tumbuh 13,6% dibanding pada triwulan I-2011 yang sebesar Rp 249,16 triliun.
Kredit tersebut masih didominasi oleh pertumbuhan pada sektor Mikro. Kontribusi pinjaman Mikro pada komposisi seluruh pinjaman BRI mengalami peningkatan dari 31,7% pada triwulan I -2011 menjadi 32,4% pada triwulan I-2012. Atau dari Rp 79,04 triliun menjadi Rp 91,78 triliun pada triwulan I -2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi simpanan BRI mengalami peningkatan 16% yoy, dari Rp 290, 58 triliun pada triwulan I-2011 menjadi Rp 336,96 triliun pada triwulan II-2012. Hal ini didorong oleh peningkatan sumber dana murah yag berakibat pada penurunan COF dari 4,85% pada triwulan I-2011 ke 4,02% pada triwulan I-2012.
"Dengan tingkat likuiditas yang terjaga, terlihat dari rasio loan to deposit ratio (LDR) yang berada pada level 84.03%, dan disertai penguatan CAR yang mencapai 17,36%, Bank BRI memiliki landasan yang kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan di masa yang akan datang," ungkap Corporate Secretary BRI Muhammad Ali.
BRI juga mampu mengelola aset produktifnya pada komposisi yang optimum. Hal tersebut dibarengi dengan tingkat efisiensi yang terjaga. Hal itu membuat Bank BRI tetap mampu mempertahankan target profitabilitasnya diatas rata-rata 5 bank besar nasional.
Per Maret 2012 ROA BRI tercatat sebesar 5,11%, sementara ROA rata-rata 5 Bank nasional hanya 5,12%. Sedangkan ROE BRI mencapai 36,26%, jauh melebihi ROE rata-rata 5 bank nasional yang hanya 23,72%.
(dru/dnl)











































