IMF: Asia, Waspada Overheating!

IMF: Asia, Waspada Overheating!

- detikFinance
Minggu, 29 Apr 2012 16:03 WIB
IMF: Asia, Waspada Overheating!
Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan masih terdapat potensi tekanan overheating alias kepanasan terhadap perekonomian di Asia. Untuk itu pemerintah negara-negara di Asia harus menetralkan semua kebijakan makro ekonominya guna mengantisipasi overheating tersebut.

Demikian disampaikan Direktur Pembangunan Asia-Pasifik IMF Anoop Singh seperti dikutip detikFinance, Minggu (29/4/2012).

"Dalam jangka pendek, ada kekhawatiran tekanan overheating mulai kembali di Asia. Di banyak bagian di Asia, kami melihat beberapa kekakuan dalam penurunan inflasi meskipun di banyak negara, inflasi ini telah turun secara parsial di mana harga komoditas mulai moderat," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Anoop, IMF melihat adanya kecenderungan inflasi inti yang masih tinggi di banyak negara. Bahkan proyeksi inflasi di banyak negara telah melebihi target pertengahan tahun yang telah ditetapkan negara tersebut. Hal ini karena adanya kebijakan ekonomi makro yang akomodatif di mana suku bunga di beberapa negara Asia justru di bawah level sebelum terjadinya krisis ekonomi global, sekitar tahun 2002-2007.

"Untuk itu, negara-negara ini harus memiliki kenijakan ekonomi makro yang lebih netral," ujarnya.

Pemerintah negara-negara di Asia, lanjut Anoop, harus lebih melihat ke arah permintaan domestik dan tidak mengandalkan ekspor guna mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya. Dia menambahkan, Asia juga harus merangkul dan mengambil tantangan untuk mengubah model pertumbuhan ekonominya.

"Bagaimana kita memastikan bahwa Asia dapat tetap menjadi pemimpin dalam pertumbuhan global? Apalagi, Asia, seperti yang kita ketahui, tergantung pada ekspor ke negara maju yang saat ini permintaan akan komoditasnya cenderung turun," jelasnya.

Perubahan model pertumbuhan ini akan membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dan mengurangi ketidaksetaraan yang semakin tinggi dalam beberapa dekade ini.

Sementara itu, Anoop mengamati bahwa risiko gelembung properti di Asia, khususnya Cina dan Singapura, telah agak mereda dengan intervensi pemerintah yang aktif untuk mendinginkan harga properti dari waktu ke waktu.

"Jika Anda melihat di dekat China, harga properti telah berkurang dan jumlah transaksi berkurang. Resiko dari gelembung harga properti di Cina secara signifikan telah dimoderasi. Seperti yang Anda tahu, Cina telah mengambil sejumlah langkah administratif untuk memastikan bahwa properti gelembung harga tidak berlaku," tandasnya.

(nia/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads