Demikian disampaikan Direktur Pembangunan Asia-Pasifik IMF Anoop Singh seperti dikutip detikFinance, Minggu (29/4/2012).
"Dalam jangka pendek, ada kekhawatiran tekanan overheating mulai kembali di Asia. Di banyak bagian di Asia, kami melihat beberapa kekakuan dalam penurunan inflasi meskipun di banyak negara, inflasi ini telah turun secara parsial di mana harga komoditas mulai moderat," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk itu, negara-negara ini harus memiliki kenijakan ekonomi makro yang lebih netral," ujarnya.
Pemerintah negara-negara di Asia, lanjut Anoop, harus lebih melihat ke arah permintaan domestik dan tidak mengandalkan ekspor guna mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya. Dia menambahkan, Asia juga harus merangkul dan mengambil tantangan untuk mengubah model pertumbuhan ekonominya.
"Bagaimana kita memastikan bahwa Asia dapat tetap menjadi pemimpin dalam pertumbuhan global? Apalagi, Asia, seperti yang kita ketahui, tergantung pada ekspor ke negara maju yang saat ini permintaan akan komoditasnya cenderung turun," jelasnya.
Perubahan model pertumbuhan ini akan membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dan mengurangi ketidaksetaraan yang semakin tinggi dalam beberapa dekade ini.
Sementara itu, Anoop mengamati bahwa risiko gelembung properti di Asia, khususnya Cina dan Singapura, telah agak mereda dengan intervensi pemerintah yang aktif untuk mendinginkan harga properti dari waktu ke waktu.
"Jika Anda melihat di dekat China, harga properti telah berkurang dan jumlah transaksi berkurang. Resiko dari gelembung harga properti di Cina secara signifikan telah dimoderasi. Seperti yang Anda tahu, Cina telah mengambil sejumlah langkah administratif untuk memastikan bahwa properti gelembung harga tidak berlaku," tandasnya.
(nia/dru)











































